Connect with us

EKBIS

Minyak Dunia Melemah Usai Trump Batalkan Serangan

Aktualitas.id -

Ilustrasi, minyak dunia melemah, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Pasar energi global kembali diguncang perubahan besar. Setelah berminggu-minggu dibayangi ketegangan di Timur Tengah, harga minyak dunia mulai kehilangan momentum akibat keputusan mengejutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran.

Kabar tersebut langsung mengubah sentimen pasar yang sebelumnya dipenuhi kekhawatiran akan pecahnya konflik yang lebih luas di kawasan penghasil minyak terbesar dunia. Pelaku pasar menilai peluang eskalasi perang menurun sehingga tekanan terhadap pasokan energi global mulai mereda.

Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), harga minyak mentah Brent berada di level US$89,17 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat diperdagangkan di kisaran US$86,48 per barel.

Meski sempat mencatat kenaikan intraday, kedua kontrak minyak masih membukukan pelemahan mingguan yang cukup tajam. Brent tercatat turun lebih dari 4 persen sepanjang pekan, sementara WTI juga mengalami koreksi lebih dari 4 persen.

Perubahan arah pasar terjadi setelah muncul sinyal bahwa jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih terbuka. Trump menyebut komunikasi dengan Iran menunjukkan perkembangan positif, sehingga opsi serangan militer tidak jadi dijalankan.

Namun situasi belum sepenuhnya tenang. Dari Teheran, laporan media lokal menyebut belum ada kesepakatan resmi yang disetujui terkait pembahasan yang sedang berlangsung. Kondisi ini membuat ketidakpastian tetap membayangi pasar energi global.

Sebelumnya, ketegangan meningkat setelah Iran mengumumkan langkah penutupan Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global biasanya melewati kawasan tersebut.

Ancaman terhadap jalur distribusi energi itu sempat memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran pasar internasional. Investor khawatir gangguan pasokan akan mendorong harga energi melonjak lebih tinggi dan memperburuk tekanan inflasi global.

Meski demikian, laporan terbaru menyebut aktivitas pelayaran komersial masih berlangsung di kawasan tersebut. Hal ini sedikit meredakan kepanikan pasar yang sebelumnya mengantisipasi gangguan pasokan dalam skala besar.

Analis pasar menilai arah pergerakan minyak ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Setiap perubahan sikap dari kedua negara berpotensi langsung memengaruhi harga energi global dalam waktu singkat.

Walau harga minyak sedang terkoreksi, sejumlah analis memperingatkan bahwa risiko kenaikan belum sepenuhnya hilang. Selama harga mampu bertahan di atas area penting sekitar US$80 per barel, peluang rebound masih tetap terbuka.

Saat ini perhatian investor dunia tertuju pada Timur Tengah. Pasar sedang menunggu apakah ketegangan benar-benar mereda atau justru kembali memanas dan memicu gelombang kenaikan harga minyak berikutnya. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version