Berita
BPBD Garut Sebut 1.100 Hektare Lahan Rawan Terbakar
AKTUALITAS.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut menyebut sejumlah lahan yang ada di Kabupaten Garut rawan terbakar selama musim kemarau. Beberapa tempat yang rawan terbakar selama kemarau adalah kawasan gunung yang menjadi tujuan pendaki untuk melakukan perjalanan. Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Garut, TB A Sofyan mengatakan, secara umum luas lahan yang rawan […]
AKTUALITAS.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut menyebut sejumlah lahan yang ada di Kabupaten Garut rawan terbakar selama musim kemarau. Beberapa tempat yang rawan terbakar selama kemarau adalah kawasan gunung yang menjadi tujuan pendaki untuk melakukan perjalanan.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Garut, TB A Sofyan mengatakan, secara umum luas lahan yang rawan terbakar selama kemarau di Kabupaten Garut kurang lebih 1.100 hektare. Luas tersebut sendiri tersebar di beberapa wilayah Garut, mulai utara hingga selatan dan timur sampai barat.
“Yang paling rawan terbakar sendiri adalah lahan di kawasan Gunung Guntur, Gunung Cikuray, Sadakeling, hingga Hutan Sancang yang ada di Garut Selatan. Di awal musim yang memasuki kemarau ini sendiri, beberapa kejadian kebakaran lahan, seperti di kawasan Gunung Guntur beberapa hari kemarin,” katanya, Senin (31/8).
Sejak awal kemarau sendiri, ungkap Sofyan, setidaknya kurang lebih 18 hektare lahan di Kabupaten Garut terbakar karena beberapa hal. Luasnya area lahan yang terbakar, terjadi akibat minimnya sumber air di lokasi kebakaran sehingga proses pemadaman dilakukan secara manual, atau dilakukan sekat bakar.
“Memang lokasi lahan yang terbakar dan lahan yang rawan kebakaran berada di ketinggian sehingga jauh dari sumber mata air. Selain itu, kondisi medan juga menjadikan mobil pemadam sulit sampai langsung ke titik lokasi kebakaran. Jadinya kita ya melakukan pemadaman secara manual dengan tim gabungan dari beberapa unsur,” ungkapnya.
Penyebab kebakaran di sejumlah lahan di Kabupaten Garut sendiri, dijelaskan Sofyan, bisa terjadi karena faktor alam dan manusia. Faktor alam akibat gesekan pohon di tengah teriknya matahari, sedangkan manusia akibat kelalaian, baik saat melakukan pembakaran ilalang hingga membuang puntung rokok sembarangan.
Tidak jarang juga, menurutnya, kebakaran lahan dipicu oleh aksi pendaki yang lupa mematikan bekas kegiatan memasak atau menyalakan api unggun saat melakukan pendakian.
“Kita jadinya menggiatkan himbauan kepada pendaki bahkan kepada masyarakat juga agar jangan sampai lalai membiarkan bekas memasak atau membuat api unggun masih menyala saat ditinggalkan. Itu bisa memicu kebakaran lahan,” ungkapnya.
Saat ini sendiri, diakui Sofyan, pihaknya bekerjasama dengan Perhutani dan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) memantau wilayah kehutanan yang ada di Kabupaten Garut. Hal itu dilakukan karena beberapa kawasan yang rawan kebakaran adalah kawasan milik Perhutani dan BKSDA.
“Kita juga kepada masyarakat yang ada di kawasan lahan yang rawan terbakar memberikan arahan agar bisa mandiri melakukan pemadaman dan membuat sekat bakar sehingga bisa meminimalisasi luas lahan yang terbakar,” tutupnya.
-
NASIONAL24/07/2026 23:59 WIBMensos Saifullah Yusuf Tindak Lanjuti Temuan ICW soal Pengadaan Sekolah Rakyat
-
RIAU24/07/2026 17:23 WIBKapolda Riau Tegaskan Tak Ada Ruang bagi Pelaku Kejahatan Lingkungan
-
OLAHRAGA24/07/2026 17:44 WIBShin Tae-yong Buka Suara soal Larangan Melatih 10 Tahun dari KFA Korea Selatan
-
NASIONAL24/07/2026 19:30 WIBRieke Soroti Komunitas Lari WNA di Bali, Ingatkan Soal Ruang Publik dan Hukum
-
RIAU24/07/2026 18:00 WIBBupati Bengkalis Minta Direksi PT BLJ Tak Ambil Keputusan Ceroboh
-
RIAU24/07/2026 20:00 WIBPemkab Bengkalis Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Puting Beliung
-
OLAHRAGA24/07/2026 23:33 WIBWapres dan Pemain Legenda Bagikan Kaos Misi Penyelamatan Sriwijaya FC
-
NASIONAL24/07/2026 22:30 WIBDNIKS Gandeng Kemensos, BUMN, dan Swasta Perkuat Program Pemberdayaan Sosial