Berita
PM Thailand Prayuth Chan-ocha Menolak Mengundurkan Diri
Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha, menolak tuntutan kelompok pro demokrasi yang memintanya mengundurkan diri dari jabatannya. “Saya tidak akan mundur. Memangnya apa yang saya perbuat? Salah saya apa?,” kata Prayuth usai menghadiri rapat darurat dengan kabinet di ibu kota Bangkok, seperti dilansir ABS-CBN, Jumat (16/10). Dilansir The Nation Thailand, dalam rapat itu Prayuth menyatakan pemerintah […]
Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha, menolak tuntutan kelompok pro demokrasi yang memintanya mengundurkan diri dari jabatannya.
“Saya tidak akan mundur. Memangnya apa yang saya perbuat? Salah saya apa?,” kata Prayuth usai menghadiri rapat darurat dengan kabinet di ibu kota Bangkok, seperti dilansir ABS-CBN, Jumat (16/10).
Dilansir The Nation Thailand, dalam rapat itu Prayuth menyatakan pemerintah sepakat mengambil keputusan untuk menetapkan status darurat nasional selama 30 hari yang dimulai hari ini.
Dia mengatakan kebijakan itu diambil untuk mengendalikan aksi demonstrasi yang terus menerus terjadi yang dilakukan kelompok pro demokrasi.
Dalam status darurat nasional, aparat keamanan dibolehkan menahan individu yang dicurigai selama 30 hari tanpa alasan tertentu. Mereka juga berhak melarang perkumpulan atau keramaian yang diikuti oleh lebih dari lima orang.
Selain itu, Prayuth menyatakan pemerintah juga memberlakukan jam malam jika aksi demo terus membesar.
Keputusan itu menyusul penerbitan dekrit darurat oleh pemerintah Negeri Gajah Putih pada Kamis (15/10) kemarin. Sampai saat ini tercatat sudah 40 orang demonstran ditangkap sejak aksi unjuk rasa dimulai sejak awal pekan.
Prayuth menyarankan supaya para demonstran dan aktivis berdoa di kuil ketimbang turun ke jalan, karena khawatir dengan penyebaran virus corona.
Di sisi lain, Miss Universe Thailand, Amanda Charlene Obdam, menyatakan dukungan kepada kelompok pro demokrasi melalui pesan di media sosial Instagram.
“Maaf saya terlambat. Saya sangat sibuk dengan media dan ingin mencoba mengikuti perkembangan situasi sebelum menyampaikan pendapat. Saya hanya menyatakan saya mendukung demokrasi, hak asasi manusia, gerakan damai, kebebasan berpendapat dan kesetaraan,” kata perempuan keturunan Thailand-Kanada itu
Salah satu tuntutan demonstran adalah mendesak supaya Prayuth yang mulanya adalah panglima Angkatan Bersenjata Thailand dan berkuasa setelah melakukan kudeta pada 2014 untuk mengundurkan diri. Sebab aktivis menilai hasil pemilu pada 2019 yang mengukuhkan dia menjadi PM adalah tidak sah dan penuh kecurangan.
Demonstran mendesak supaya menggelar pemilihan umum dan parlemen yang baru menyusun undang-undang dasar yang baru untuk menggantikan konstitusi yang disusun oleh junta militer.
Aksi unjuk rasa di Thailand sebagian besar berlangsung damai. Hanya saja dua orang demonstran ditangkap dan disangka membahayakan Ratu Thailand saat kendaraan rombongan kerajaan melintas di dekat massa pengunjuk rasa.
Keduanya pun terancam hukuman mati.
Kelompok oposisi menolak keputusan pemberlakuan status darurat nasional dan jam malam. Mereka mendesak Prayuth dan Partai Pheu Thai yang berkuasa supaya segera mencabut kebijakan itu dan berhenti mengintimidasi rakyat sipil.
-
RAGAM19/04/2026 15:30 WIBDiabetes Bisa Dikendalikan dengan Pola Hidup Sehat
-
DUNIA19/04/2026 15:00 WIBTrump Ancam Rebut Paksa Uranium Iran Jika Negosiasi Gagal
-
PAPUA TENGAH19/04/2026 20:00 WIBEvakuasi dan Pelayanan Kesehatan Warga Korban Pembakaran Honai Oleh KKB
-
NASIONAL19/04/2026 17:30 WIBLima Pengedar Dolar AS Palsu Ditangkap Bareskrim
-
EKBIS19/04/2026 17:00 WIBHarga LPG 12 Kg Naik Jadi Rp228 Ribu, LPG 5,5 Kg Jadi Rp110 Ribu Per Tabung
-
JABODETABEK19/04/2026 19:30 WIBSerah Terima Kawal Istana Jadi Atraksi Wajib di CFD
-
RAGAM19/04/2026 16:30 WIBTampilkan 1.000 Penari, TMII Pecahkan Rekor Muri
-
PAPUA TENGAH19/04/2026 16:00 WIBIntervensi Lintas Sektor Jadi Kunci Penanganan Konflik di Kwamki Narama

















