DUNIA
Houthi Bidik Kepentingan AS Jika Ikut Campur
AKTUALITAS.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang kian mematikan. Kelompok milisi Houthi yang menguasai Yaman melontarkan ancaman terbuka akan menargetkan seluruh kepentingan militer dan ekonomi Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut jika Washington nekat melakukan intervensi untuk menyelamatkan sekutunya, Arab Saudi.
Ancaman keras ini berpusat pada perebutan kendali Selat Bab al-Mandab – salah satu titik transit energi paling krusial di dunia yang menjadi pintu masuk Laut Merah menuju Terusan Suez. Menyusul serangan kilat Houthi bulan ini yang berhasil menguasai perairan sempit tersebut, Arab Saudi dan pemerintah Yaman dilaporkan mulai kelabakan dan mendesak intervensi militer internasional, termasuk dari AS.
Bagi eksportir minyak global, blokade Houthi atas kapal-kapal Saudi di Laut Merah ini memicu kepanikan ganda. Jalur logistik dan energi dunia kini semakin tercekik, mengingat arus pelayaran di sisi lain Semenanjung Arab yakni Selat Hormuz juga berada di bawah bayang-bayang pengaruh kuat militer Iran, sekutu utama Houthi.
“Jika Amerika berani melakukan intervensi militer dengan armada lautnya atau mencoba menguasai Bab al-Mandab, itu adalah garis merah,” tegas penasihat militer Houthi, Abed Mohammed al-Thawr, melansir laporan AFP, Rabu (24/9/2026).
Thawr memberikan ultimatum bahwa serangan udara maupun suplai logistik AS untuk Riyadh akan memicu perang terbuka dengan Washington. “Kami akan menganggap setiap kepentingan Amerika di sekitar kami sebagai target dan kami tidak akan mengecualikan apa pun. Kami akan menutup Bab al-Mandab sepenuhnya bagi kapal-kapal Amerika,” tambahnya.
Sejauh ini, kelompok bersenjata tersebut bersikeras hanya menargetkan armada milik Arab Saudi. Di darat, pasukan Houthi sukses memukul mundur tentara Yaman sokongan Riyadh dari kawasan pesisir Laut Merah yang menelan ratusan korban jiwa. Bahkan, drone dan rudal balistik Houthi sukses menembus pertahanan udara Saudi, menggempur ibu kota Riyadh untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah gempuran ini, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan telah meminta bantuan langsung kepada Presiden AS Donald Trump, yang menurut sejumlah laporan intelijen, justru berujung pada penolakan.
Konflik ini juga memicu saling balas serangan mematikan. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim Arab Saudi telah melancarkan 52 serangan udara ke wilayah Yaman dalam 24 jam terakhir sejak runtuhnya gencatan senjata empat tahun pada Juli lalu. Serangan mematikan di kegubernuran Taiz dan Al-Jawf dilaporkan menewaskan 10 warga dan melukai 14 lainnya. Sebagai antisipasi balasan, otoritas Saudi telah mengeluarkan peringatan bahaya di Jazan dan Najran yang berbatasan langsung dengan Yaman.
Meski operasi militernya semakin seirama dengan agenda anti-Barat, Houthi membantah disetir langsung oleh Teheran. “Iran adalah negara sahabat, sekutu, dan saudara, namun mereka tidak mendikte kami. Kami mandiri dalam pengambilan keputusan,” kilah Thawr.
Benturan kepentingan para raksasa proksi ini memicu bencana kemanusiaan ekstrem. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa perang yang kembali berkobar ini akan memicu gelombang eksodus besar-besaran, meroketkan jumlah pengungsi di Yaman dari 130.000 menjadi lebih dari 230.000 jiwa hanya dalam hitungan bulan ke depan. (Mun)
-
RAGAM23/09/2026 22:00 WIB15 Daerah Kalimantan Punya Payung Hukum Baru
-
NASIONAL23/09/2026 20:00 WIBDPR Dorong BUMN Tekstil Bangun Kekuatan dari Hulu
-
NASIONAL24/09/2026 06:00 WIBGILA! Ombudsman Temukan ‘Apartemen Sultan’ di Dalam Lapas Cibinong
-
DUNIA24/09/2026 15:00 WIBChina Sinyal J-36 Dibekali Laser Tempur
-
OTOTEK24/09/2026 14:30 WIBMalware Baru RatHat Bikin HP Tak Lagi Aman
-
Berita23/09/2026 19:30 WIBPTIQ Jakarta Wisuda 1.005 Lulusan, Nasaruddin Umar Tekankan Pengabdian kepada Masyarakat
-
POLITIK24/09/2026 09:00 WIBDemokrat Nilai Wacana Capres 2 Fraksi Ideal
-
DUNIA24/09/2026 00:00 WIBGedung Putih Luncurkan Trump TV