Connect with us

DUNIA

Krisis Air Makin Parah, Polisi Meksiko Tembakkan Gas Air Mata ke Massa

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Gelombang kemarahan warga akhirnya meledak di Guadalajara, salah satu kota terbesar di Meksiko, setelah krisis air bersih yang berlangsung bertahun-tahun semakin memburuk. Air keran yang mengalir ke rumah-rumah warga dilaporkan berwarna cokelat, mengandung endapan lumpur, dan mengeluarkan bau tidak sedap.

Kondisi tersebut memicu aksi demonstrasi besar-besaran yang berujung bentrokan dengan aparat kepolisian. Situasi memanas ketika polisi membubarkan massa menggunakan meriam air dan gas air mata.

Akibat bentrokan tersebut, puluhan orang dilaporkan mengalami luka-luka dan hampir 40 demonstran ditangkap. Insiden itu langsung memicu sorotan nasional dan menjadi perbincangan luas di berbagai media sosial.

Di tengah memuncaknya kemarahan publik, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dikabarkan menegur aparat atas tindakan represif terhadap demonstran. Pemerintah federal juga berjanji mengevaluasi proyek-proyek infrastruktur air yang selama ini menjadi sorotan warga.

Namun janji tersebut belum mampu meredakan ketegangan. Warga masih terus mempertanyakan kualitas air yang mereka terima setiap hari.

Dalam beberapa hari terakhir, media sosial dipenuhi video yang memperlihatkan air keran berwarna cokelat pekat hingga kehitaman mengalir langsung ke wadah-wadah penampungan warga. Tayangan tersebut memicu gelombang kemarahan yang semakin meluas.

BACA JUGA  Meksiko Berduka: Wali Kota Carlos Manzo Tewas Ditembak

Krisis ini menjadi simbol buruknya tata kelola air di Guadalajara, kota metropolitan yang dihuni lebih dari lima juta penduduk dan dikenal sebagai pusat industri serta manufaktur terbesar di Meksiko.

Masalah yang terjadi ternyata jauh lebih serius daripada sekadar perubahan warna air. Berdasarkan laporan pemantauan independen yang dilakukan Lembaga Pembangunan Komunitas Meksiko (IMDEC), hasil pengujian terhadap 184 sampel air rumah tangga dari 90 kawasan menunjukkan fakta mengkhawatirkan.

Lebih dari 93 persen sampel tidak mengandung sisa klorin yang cukup untuk membunuh bakteri berbahaya. Pengujian laboratorium juga menemukan indikasi keberadaan zat berisiko seperti timbal, merkuri, nitrat, hingga bakteri E. coli yang mengindikasikan kontaminasi limbah.

Temuan itu membuat IMDEC mendesak pemerintah segera menetapkan status darurat kesehatan masyarakat dan melakukan investigasi menyeluruh terhadap sumber pencemaran.

Di tengah demonstrasi yang berlangsung panas, warga Guadalajara mengaku sudah terlalu lama hidup dalam kondisi yang sama.

Aleida Morales, warga berusia 54 tahun, mengatakan air keruh dan berwarna cokelat telah menjadi bagian dari keseharian keluarganya selama sekitar 15 tahun terakhir.

BACA JUGA  Perayaan Kemenangan Meksiko Berujung Korban Jiwa

Menurutnya, masyarakat mulai kehilangan kesabaran karena merasa kemajuan ekonomi yang dibanggakan pemerintah justru dibayar dengan kerusakan lingkungan yang semakin parah.

“Pasti ada jalan lain yang lebih ramah lingkungan untuk membuka lapangan kerja. Pendekatan pemerintah saat ini sama saja meracuni kami,” ujarnya.

Morales bahkan mengenang masa ketika sungai dan air terjun di wilayah tersebut menjadi kebanggaan masyarakat setempat.

“Tiga dekade lalu tempat ini seperti surga. Sekarang berubah menjadi sumber racun,” katanya.

Guadalajara sendiri berada di kawasan Daerah Aliran Sungai Lerma-Santiago, salah satu sistem sungai yang dikenal mengalami pencemaran berat akibat limbah industri, limbah domestik, dan tekanan urbanisasi yang terus meningkat.

Pemerintah Meksiko mengakui persoalan lingkungan di kawasan tersebut sudah memasuki tahap serius. Pada Juli lalu, pemerintah meluncurkan program pemulihan DAS Lerma-Santiago dan dua sungai besar lainnya dengan investasi mencapai 20 miliar peso atau sekitar Rp17,1 triliun.

Meski demikian, para ahli menilai akar persoalan tidak bisa diselesaikan secara instan.

BACA JUGA  BREAKING NEWS! Bus Terbalik di Meksiko, 12 Orang Tewas dan 58 Penumpang Luka-Luka

Pakar Teknik Lingkungan Universitas Guadalajara, Allan Tejeda, menyebut krisis air yang terjadi saat ini merupakan akumulasi masalah lingkungan yang telah diabaikan selama bertahun-tahun.

Menurutnya, kombinasi limbah industri, pembuangan ilegal, pertumbuhan kota yang tak terkendali, serta minimnya investasi berkelanjutan pada infrastruktur pengolahan air telah menciptakan krisis sistemik.

“Masalah sistemik ini tidak pernah mendapatkan perhatian serius yang dibutuhkan,” tegasnya.

Sementara itu, Majelis Nasional untuk Air, Kehidupan, dan Wilayah menyatakan dukungan penuh terhadap aksi protes warga serta mendesak pemerintah menghadirkan solusi yang nyata dan terukur.

Kelompok tersebut menegaskan bahwa akses air bersih bukanlah hak istimewa yang hanya bisa dinikmati kelompok tertentu, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan kesehatan, pangan, dan kelangsungan hidup masyarakat.

Dengan kemarahan publik yang terus membesar, Guadalajara kini menghadapi salah satu krisis lingkungan terbesar dalam sejarah modernnya. Warga tidak lagi hanya menuntut air bersih, tetapi juga meminta pertanggungjawaban atas puluhan tahun pencemaran yang mereka nilai telah merampas hak dasar untuk hidup sehat dan aman. (Mun)

TRENDING