Connect with us

DUNIA

Iran Akui 30 Pesawat Hancur Digempur AS-Israel

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Iran akhirnya mengungkap besarnya kerugian yang dialami sektor penerbangan nasional selama perang melawan Amerika Serikat dan Israel. Sebanyak 20 hingga 30 pesawat dilaporkan hancur sepanjang konflik yang berlangsung sejak Februari 2026.

Pengakuan tersebut menjadi gambaran terbaru mengenai dampak perang yang tidak hanya menghantam sektor pertahanan, tetapi juga memperparah kondisi industri penerbangan Iran yang selama bertahun-tahun tertekan oleh sanksi internasional.

Dalam konferensi pers yang dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim, CEO maskapai nasional Iran Air, Taher Abdolhai, mengungkapkan bahwa armada penerbangan negaranya mengalami kerugian besar selama konflik berlangsung.

Menurut Abdolhai, Iran saat ini membutuhkan sekitar 1.000 pesawat penumpang untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara nasional. Namun kenyataannya, negara tersebut hanya memiliki sekitar 300 pesawat.

BACA JUGA  Washington Klaim Teheran Melemah Drastis

Lebih memprihatinkan lagi, sebelum perang pecah hanya sekitar 130 hingga 140 pesawat yang masih aktif beroperasi. Dari jumlah tersebut, puluhan unit dilaporkan rusak maupun hancur akibat serangan selama konflik.

“Sebanyak 20 hingga 30 pesawat hancur selama perang,” ungkap Abdolhai.

Ia juga menyebut sekitar 70 hingga 80 pesawat menjadi sasaran serangan sepanjang konflik. Menurut klaim Iran, sejumlah serangan yang dikaitkan dengan Israel menyebabkan kerusakan serius terhadap armada penerbangan sipil.

Beberapa pesawat dilaporkan mengalami kerusakan berat setelah terkena serangan rudal. Bahkan satu pesawat milik Iran Air disebut hancur total.

Kerusakan akibat perang datang di saat yang sangat sulit bagi industri penerbangan Iran. Selama bertahun-tahun, maskapai-maskapai Iran menghadapi keterbatasan armada karena sulit memperoleh pesawat baru, suku cadang, akses pembiayaan internasional, hingga layanan perawatan pesawat.

BACA JUGA  Perang Iran Bikin AS Keluar Rp803 Triliun

Sanksi yang kembali diterapkan Amerika Serikat setelah Washington keluar dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 membuat upaya modernisasi armada penerbangan Iran praktis terhambat.

Akibatnya, berbagai rencana pembelian pesawat dari Boeing dan Airbus tidak berjalan sesuai harapan. Banyak pesawat terpaksa tidak dioperasikan karena keterbatasan komponen dan tingginya biaya pemeliharaan.

Abdolhai mengatakan tekanan tersebut membuat jumlah pesawat yang dapat digunakan terus menurun, sementara kebutuhan transportasi udara nasional tetap tinggi.

Di tengah kondisi itu, Iran Air masih mempekerjakan lebih dari 9.000 pekerja. Manajemen maskapai kini dituntut meningkatkan efisiensi operasional agar tetap mampu melayani kebutuhan penerbangan domestik maupun internasional.

Meski menghadapi berbagai tekanan, Abdolhai menegaskan Iran Air tidak akan diprivatisasi. Menurutnya, maskapai nasional memiliki nilai strategis yang jauh melampaui fungsi bisnis semata dan menjadi bagian penting dari kepentingan nasional Iran.

BACA JUGA  Trump: Iran Belum Pantas Buat Kesepakatan

Pengakuan mengenai hancurnya puluhan pesawat tersebut sekaligus menunjukkan besarnya dampak perang terhadap infrastruktur sipil Iran. Selain kehilangan armada, negara itu kini menghadapi tantangan besar untuk memulihkan sektor penerbangan yang sudah lama dibatasi sanksi dan kini diperberat oleh kerusakan akibat konflik bersenjata. (Mun)

TRENDING