EKBIS
Rupiah Perkasa Lagi ke Rp16.280
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan keperkasaannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis pagi (5/6/2025). Penguatan ini melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya, didorong oleh serangkaian data ekonomi AS yang dirilis lebih lemah dari perkiraan, memicu kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan dan tekanan inflasi yang masih menghantui Negeri Paman Sam.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.02 WIB, rupiah di pasar spot terapresiasi 14,5 poin atau 0,09%, mengantarkannya ke level Rp 16.280 per dolar AS. Kinerja positif ini menyusul penutupan perdagangan Rabu (4/6) dimana mata uang Garuda juga berhasil menguat 14,2 poin ke level Rp 16.294,5 per dolar AS.
Pelemahan dolar AS tak hanya dirasakan oleh rupiah. Secara global, greenback terpantau mendekati level terendahnya dalam enam pekan terakhir. Dikutip dari Reuters, tekanan ini dipicu oleh data yang menunjukkan sektor jasa di AS mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam hampir setahun pada Mei, ditambah dengan sinyal pelemahan di pasar tenaga kerja. Kondisi ini bahkan sempat mendorong reli di pasar obligasi pemerintah AS, dengan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun ke posisi terendah dalam empat pekan.
Indeks dolar, yang menjadi tolok ukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, berada di level 98,749. Indeks ini bahkan dilaporkan telah anjlok sekitar 9% sepanjang tahun ini, menuju performa tahunan terburuk sejak 2017.
“Penurunan nilai dolar memang menjadi cerita utama tahun ini,” ujar Mansoor Mohi-uddin, Kepala Ekonom Bank of Singapore. Ia menambahkan, “Jika data ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat nanti juga melemah, penurunan dolar bisa semakin tajam.”
Para investor kini memang tengah menanti rilis data tenaga kerja AS yang lebih komprehensif, yaitu Non-Farm Payrolls (NFP), pada Jumat (6/6). Survei Reuters memperkirakan NFP hanya bertambah 130 ribu pekerjaan pada Mei, menurun dari 177.000 pada April. Pasar bahkan memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 56 basis poin tahun ini, dengan peluang 95% untuk pemangkasan pertama pada September mendatang.
Sementara itu, mata uang lain di kawasan juga memanfaatkan momentum pelemahan dolar. Dolar Australia naik 0,22% dan dolar Selandia Baru menguat 0,24%. Euro terpantau stabil menjelang keputusan penting pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) yang dijadwalkan hari ini.
Selain data ekonomi, ketidakpastian mengenai kelanjutan negosiasi dagang AS dengan mitra strategisnya, termasuk China, juga turut membayangi sentimen pasar global dan memberikan tekanan tambahan pada dolar AS. (Yan Kusuma/Mun)
-
DUNIA01/02/2026 19:00 WIBIran Usir Sejumlah Atase Militer Eropa
-
EKBIS01/02/2026 20:00 WIBAstraZeneca Tegaskan Kembali Kepercayaan pada China
-
OTOTEK01/02/2026 23:00 WIBBaterai EV Bekas China Didaur Ulang Bengkel Ilegal
-
OASE02/02/2026 05:00 WIBPelajaran Tauhid dan Sains dalam Surat Al-Anbiya Ayat 1-30 yang Wajib Diketahui Muslim
-
NUSANTARA01/02/2026 19:30 WIBBanjir Masih Rendam Empat Kecamatan di Kabupaten Serang
-
OLAHRAGA01/02/2026 20:30 WIBLiverpool Datangkan Geertruida Untuk Perkuat Pertahanan
-
DUNIA01/02/2026 21:30 WIBBiadab! Gaza Digempur Serangan Udara Israel
-
NUSANTARA01/02/2026 22:00 WIBDua Anak Tewas Akibat Longsor di Pangalengan

















