EKBIS
Pasar Saham ‘Berdarah’! IHSG Senin Pagi Longsor Tembus ke Bawah 8.000
AKTUALITAS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan kuat pada pembukaan perdagangan Senin (2/2/2026). Hingga pukul 09.30 WIB, IHSG tercatat ambruk 4,35 persen ke level 7.969,03, sekaligus menembus ke bawah level psikologis 8.000.
Tekanan jual meluas sejak awal perdagangan. Sebanyak 630 saham melemah, 252 saham stagnan, dan hanya 78 saham yang menguat. Volume perdagangan mencapai 16,46 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp9,77 triliun, menandai tekanan pasar yang signifikan di awal pekan.
IHSG sejatinya telah dibuka di zona merah pada level 8.306,16. Namun, dalam waktu singkat tekanan jual meningkat tajam. Dalam 12 menit pertama perdagangan, indeks kehilangan 287 poin atau 3,44 persen ke level 8.043,11, sebelum kembali meluncur lebih dalam hingga menyentuh area 7.900-an pada sesi pagi.
Harga Komoditas Global Ambles, Saham Emas Jadi Pemberat
Pelemahan tajam IHSG hari ini dipicu oleh anjloknya harga komoditas global, khususnya emas, yang langsung menekan kinerja saham emiten tambang dan perdagangan emas di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Hampir seluruh saham sektor emas terkoreksi mendekati level double digit sejak pembukaan perdagangan, memperparah aksi jual dan menjadikan sektor ini sebagai pemberat utama IHSG.
Volatilitas Tinggi Bayangi Pasar Keuangan
Data perdagangan pagi menunjukkan frekuensi transaksi melampaui 1 juta kali, mencerminkan aktivitas jual yang agresif. Analis memperkirakan volatilitas pasar masih akan tinggi sepanjang pekan pertama Februari 2026.
Tekanan datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk kembalinya partial shutdown pemerintah Amerika Serikat serta penantian pasar terhadap rilis data ekonomi penting.
Hari ini, S&P Global dijadwalkan merilis PMI Manufaktur Indonesia Januari 2026, sementara Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan inflasi Januari 2026 serta neraca dagang Desember 2025. Data-data tersebut akan menjadi acuan pelaku pasar dalam menilai arah ekonomi dan potensi arus modal.
Dampak ke Rupiah dan SBN
Aksi jual pada aset berisiko mendorong sebagian investor beralih ke aset aman, yang berpotensi memengaruhi permintaan terhadap Surat Berharga Negara (SBN) serta memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Jika arus modal keluar berlanjut, yield SBN berpotensi meningkat dan rupiah berisiko mengalami depresiasi sementara di tengah ketidakpastian global.
Strategi Investor di Tengah Tekanan Pasar
Di tengah kondisi pasar yang bergejolak, investor jangka pendek disarankan lebih berhati-hati dengan menahan posisi pada sektor yang paling tertekan serta menjaga likuiditas.
Sementara itu, investor jangka panjang dapat memanfaatkan koreksi tajam ini untuk menilai peluang secara selektif, terutama pada emiten dengan fundamental kuat, neraca sehat, dan prospek pendapatan stabil. (Firmansyah/Mun)
-
POLITIK31/05/2026 07:00 WIBPDIP Ingat Prabowo Tak Ubah Kurikulum Sembarangan
-
JABODETABEK31/05/2026 05:30 WIBCuaca Jakarta Hari Ini: Berawan dari Pagi hingga Malam
-
EKBIS31/05/2026 06:00 WIBDPR: 6 Juta Pekerja di Ujung Tanduk
-
NASIONAL31/05/2026 14:00 WIBPancasila Lahir di Tengah Perdebatan Panas BPUPKI
-
OASE31/05/2026 05:00 WIBAyat Alquran tentang Luar Angkasa yang Sering Dikaitkan dengan Sains
-
NUSANTARA31/05/2026 11:30 WIBPerwira Mayor TNI AL Ngamuk Hajar Kanit Polisi Sampai Pingsan di Jalanan
-
DUNIA31/05/2026 12:00 WIBParlemen Ghana Sahkan Hukuman Berat untuk LGBTQ
-
PAPUA TENGAH31/05/2026 17:00 WIBFreeport Lepas 11.000 Bibit Baramundi dan Kepiting di Pesisir Mimika

















