EKBIS
Breaking: Rupiah Jadi Mata Uang Terburuk di Asia Hari Ini
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (14/4/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat turun ke level Rp17.130 per dolar Amerika Serikat (AS), menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia hari ini.
Berdasarkan data pasar, rupiah melemah sekitar 25 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.105 per dolar AS. Pelemahan ini sudah terlihat sejak awal perdagangan ketika rupiah dibuka di level Rp17.127 per dolar AS.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah sempat terdepresiasi 0,09 persen ke posisi Rp17.110 per dolar AS. Sementara itu, data Bloomberg mencatat kurs rupiah berada di kisaran Rp17.129 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi. Won Korea Selatan tercatat melemah 0,12 persen, sementara dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing turun tipis. Di sisi lain, ringgit Malaysia justru menguat signifikan sebesar 0,52 persen, diikuti peso Filipina dan dolar Taiwan.
Penguatan dolar AS juga menjadi faktor utama yang membebani rupiah. Indeks dolar AS (DXY) tercatat berada di level 98,3, mencerminkan stabilitas greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mencermati meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan terkait blokade kapal Iran oleh Amerika Serikat di Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global, sehingga meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa bank sentral siap melakukan intervensi di berbagai pasar, baik spot maupun non-deliverable forward (NDF dan DNDF).
“BI akan terus masuk ke pasar secara terukur, baik di spot, NDF, maupun DNDF. Kami juga memperluas basis pelaku di pasar luar negeri,” ujar Destry.
Ia menambahkan, BI kini siaga penuh selama 24 jam untuk memantau dan merespons dinamika pasar global, termasuk melalui kantor perwakilan di pusat keuangan dunia seperti London dan New York.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga likuiditas dan meredam volatilitas rupiah di tengah tekanan global yang masih tinggi.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika global, terutama arah kebijakan moneter AS dan perkembangan geopolitik. Investor pun disarankan tetap waspada terhadap volatilitas pasar yang masih tinggi dalam jangka pendek. (Firmansyah/Mun)
-
RIAU16/07/2026 12:30 WIBBupati Kasmarni Dukung RSUD Mandau Naik Kelas
-
RIAU15/07/2026 23:30 WIBBupati Kasmarni Minta PHR Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal di Bengkalis
-
EKBIS16/07/2026 11:30 WIBHarga Minyak Dunia Naik 4 Hari Beruntun
-
POLITIK16/07/2026 10:00 WIBGus Ipul Tegaskan Istana Tak Ikut Campur Muktamar NU
-
POLITIK16/07/2026 09:00 WIBKIPP Desak MK Evaluasi Putusan Pemisahan Pemilu
-
POLITIK16/07/2026 14:00 WIBAria Bima: Kuota 30 Persen Perempuan Jadi PR Besar Parpol
-
NASIONAL16/07/2026 07:30 WIBKebakaran Hutan Mojokerto Kian Mengkhawatirkan
-
NASIONAL16/07/2026 11:00 WIBMasa Tunggu Haji Dipangkas Jadi 26 Tahun