Connect with us

EKBIS

IHSG Terjun Bebas Hingga 3 Persen

Aktualitas.id -

Ilustras, foto: aktualitas.id

AKTUAITAS.ID – Pasar saham Indonesia diguncang aksi jual brutal di awal pekan! Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terperosok tajam sesaat setelah pembukaan perdagangan Senin (18/5/2026), bahkan sempat anjlok lebih dari 3 persen hanya dalam hitungan menit. Tekanan besar di hampir seluruh sektor membuat bursa memerah total dan memicu kepanikan investor di tengah bayang-bayang tren bearish yang semakin dalam.

Sejak bel pembukaan dibunyikan, IHSG langsung masuk ke zona merah dan terus tertekan akibat derasnya aksi jual di pasar saham domestik.

Berdasarkan data perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka turun 94,34 poin atau melemah 1,40 persen ke posisi 6.628,97. Namun tekanan tidak berhenti di sana.

Hanya beberapa menit setelah perdagangan dimulai, indeks semakin longsor hingga menyentuh pelemahan 2,59 persen. Bahkan sekitar 40 menit setelah pembukaan, IHSG tercatat anjlok lebih dalam hingga 3,61 persen atau turun sekitar 242 poin ke level 6.480.

Data RTI menunjukkan IHSG sempat bergerak di rentang level tertinggi 6.631 dan level terendah 6.532 pada sesi awal perdagangan.

Kondisi bursa juga terlihat merah total. Sebanyak 677 saham tercatat melemah, hanya 74 saham yang menguat, sementara 62 saham stagnan.

Tekanan jual besar-besaran ini membuat IHSG menyentuh level terendahnya secara year-to-date dan memperpanjang tren pelemahan pasar saham nasional sepanjang 2026.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai pelemahan kali ini menjadi sinyal teknikal penting setelah IHSG menembus area support krusial di kisaran 6.870 hingga 7.020.

Menurut BRIDS, kondisi tersebut mengonfirmasi berlanjutnya tren bearish di pasar modal Indonesia.

Selain faktor teknikal, derasnya tekanan jual juga mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar global dan sentimen domestik yang belum stabil.

Hingga sesi awal perdagangan, mayoritas sektor saham masih berada di zona merah dengan tekanan paling besar terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang utama indeks. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version