Connect with us

EKBIS

Tragis! Rupiah Tersungkur ke Rp17.660

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Pasar keuangan Indonesia kembali memasuki fase guncangan serius! Nilai tukar rupiah ambruk tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (18/5/2026), terseret badai sentimen global akibat memanasnya konflik Timur Tengah, lonjakan harga minyak dunia, hingga menguatnya dolar AS secara agresif.

Mata uang Garuda bahkan nyaris menyentuh level psikologis kritis Rp17.700 per dolar AS sebuah titik yang mulai memicu alarm kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional dan ketahanan pasar keuangan domestik.

Tekanan terhadap rupiah terlihat brutal sejak pembukaan perdagangan pagi. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.02 WIB di pasar spot exchange, rupiah ambles 51 poin atau melemah 0,29 persen ke level Rp17.648 per dolar AS.

Namun tekanan belum berhenti. Data Refinitiv mencatat hingga pukul 10.20 WIB, rupiah semakin terperosok dan melemah hingga 1,15 persen ke posisi Rp17.660 per dolar AS.

Pelemahan tersebut bahkan lebih dalam dibanding posisi pembukaan yang sejak awal sudah dibuka negatif di level Rp17.630 per dolar AS.

Kondisi ini membuat rupiah kembali masuk zona rawan, mendekati area psikologis yang selama ini dipandang pasar sebagai batas kritis baru bagi stabilitas mata uang domestik.

Gelombang tekanan eksternal kini menghantam hampir seluruh pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor global mulai menghindari aset berisiko dan memburu instrumen safe haven seperti dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.

Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut sepanjang perdagangan hari ini.

Menurutnya, pergerakan rupiah diperkirakan berada dalam rentang Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS, dengan sentimen global masih menjadi faktor dominan yang menekan pasar.

“Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya tensi konflik Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia dan kenaikan yield obligasi AS,” ujarnya.

Kenaikan harga energi global turut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap ancaman inflasi baru dunia, sekaligus memperkuat spekulasi bahwa bank sentral utama, terutama The Federal Reserve, akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan.

Situasi ini membuat arus modal asing mulai keluar dari pasar negara berkembang dan beralih ke aset-aset berbasis dolar AS yang dinilai lebih aman.

Mengutip Reuters, dolar AS pada perdagangan Senin tercatat menguat terhadap mayoritas mata uang utama dunia.

Euro turun lebih dari 0,1 persen ke level US$1,16, sementara poundsterling melemah di bawah US$1,33.

Tekanan juga menghantam mayoritas mata uang Asia. Yen Jepang, dolar Singapura, won Korea Selatan, yuan China, hingga ringgit Malaysia kompak tersungkur di hadapan dolar AS.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah dinilai menjadi salah satu yang paling tajam di kawasan, seiring tingginya sensitivitas pasar domestik terhadap gejolak harga energi dan arus modal asing.

Pelaku pasar kini menanti perkembangan terbaru konflik Timur Tengah yang dinilai berpotensi menjadi pemicu gelombang turbulensi baru di pasar keuangan global dalam beberapa pekan mendatang.

Jika eskalasi geopolitik terus memburuk dan harga minyak semakin melonjak, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version