EKBIS
Selat Hormuz Bergejolak, Harga Minyak Langsung Melonjak
AKTUALITAS.ID – Pasar energi global kembali bergejolak. Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu bulan setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip data perdagangan Rabu (15/7), minyak mentah Brent kontrak September naik sekitar 2,3 persen ke level US$85,21 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) kontrak Agustus menguat 2 persen menjadi US$79,68 per barel.
Reli tersebut memperpanjang penguatan pada perdagangan sebelumnya ketika Brent sempat melonjak lebih dari sembilan persen, mencerminkan meningkatnya kepanikan pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak global.
Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Situasi diperburuk dengan serangan balasan Iran terhadap sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah yang semakin meningkatkan ketidakpastian geopolitik.
Di tengah situasi tersebut, Trump menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal-kapal internasional, kecuali kapal yang memiliki keterkaitan dengan Iran. Ia juga membatalkan rencana pengenaan biaya kompensasi sebesar 20 persen bagi kapal yang memperoleh perlindungan pelayaran dari Amerika Serikat dan memilih memperkuat kerja sama perdagangan serta investasi dengan negara-negara Teluk.
Namun pernyataan itu belum mampu meredakan kekhawatiran pasar. Iran kembali menegaskan penutupan Selat Hormuz setelah konflik dengan Amerika Serikat kembali memanas, mengakhiri gencatan senjata yang sebelumnya sempat tercapai.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sebelum konflik meningkat, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia serta sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) global melintasi perairan strategis tersebut. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi internasional.
Data perdagangan juga menunjukkan Brent sempat diperdagangkan di kisaran US$86,19 per barel, sementara WTI menyentuh US$80,40 per barel, memperpanjang reli dua hari berturut-turut sekaligus mencatat level tertinggi sejak pertengahan Juni 2026.
Analis Ritterbusch and Associates menilai konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar minyak. Menurut mereka, selama ketegangan militer terus berlangsung dan ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz belum mereda, harga minyak masih berpotensi bergerak naik.
Lonjakan harga minyak ini juga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Jika harga energi terus bertahan di level tinggi, biaya produksi, transportasi, hingga harga berbagai komoditas diperkirakan ikut terdorong naik, yang pada akhirnya dapat memberi tekanan baru terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. (Firman/Mun)
-
FOTO14/07/2026 21:30 WIBFOTO: Gus Yahya Bicara Muktamar ke-35 PBNU
-
FOTO14/07/2026 18:29 WIBFOTO: Suasana JPO yang Tertabrak Truk Pengangkut Alat Berat
-
NASIONAL14/07/2026 15:20 WIBKPK Lanjutkan Penyidikan Korupsi Bank BJB yang Rugikan Negara Rp222 Miliar
-
POLITIK14/07/2026 17:00 WIBDPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Dibahas
-
NASIONAL14/07/2026 14:00 WIBKejati Sumbar Dituding Culik Mahasiswa UIN Imam Bonjol
-
OLAHRAGA14/07/2026 21:00 WIBPreview Semifinal Piala Dunia 2026: Prancis vs Spanyol dan Inggris vs Argentina, Siapa Melaju ke Final?
-
NUSANTARA15/07/2026 08:30 WIBIsu Mogok Sopir Picu Kelangkaan BBM di Sumut
-
NASIONAL14/07/2026 23:00 WIBDPR Apresiasi Kebijakan Harga Khusus BBM untuk Nelayan