EKBIS
Harga Minyak Dunia Meledak ke USD75/Barel
AKTUALITAS.ID – Pasar energi global kembali diguncang. Harga minyak dunia melonjak tajam setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap Iran dan memperketat tekanan terhadap ekspor minyak Teheran. Eskalasi terbaru ini memicu kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah kembali memanas dan mengancam jalur distribusi energi dunia.
Pada perdagangan Rabu (8/7/2026), harga minyak mentah Brent naik sekitar 1,9 persen ke level USD75,54 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat menjadi USD71,81 per barel. Kenaikan tersebut memperpanjang reli yang telah terjadi sehari sebelumnya ketika kedua kontrak acuan melonjak sekitar 3 persen.
Lonjakan harga dipicu meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi pintu keluar sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Amerika Serikat menyatakan serangan udara dilakukan sebagai respons atas insiden terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di kawasan tersebut.
Situasi ini langsung mengubah sentimen pasar. Sebelumnya, banyak pelaku pasar memperkirakan pasokan minyak global akan melimpah setelah tercapainya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Namun perkembangan terbaru justru memunculkan kembali kekhawatiran akan terganggunya distribusi energi dari Timur Tengah.
Analis energi menilai keamanan Selat Hormuz kini menjadi faktor paling menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan. Jika lalu lintas kapal terus terganggu, pasar diperkirakan akan menghadapi risiko penyusutan pasokan yang dapat mempertahankan harga minyak di level tinggi.
Kondisi tersebut diperparah dengan kebijakan Washington yang kembali memperketat pembatasan terhadap penjualan minyak Iran. Langkah itu dinilai semakin mempersempit ruang ekspor Teheran di tengah situasi geopolitik yang memburuk.
Di sisi lain, Iran menilai kebijakan Amerika Serikat melanggar kesepakatan kerangka kerja yang sebelumnya disusun untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa kedua negara akan segera menurunkan eskalasi.
Ketidakpastian geopolitik juga mendorong investor mencari aset yang lebih aman. Dolar Amerika Serikat bertahan di level tinggi, sementara pasar saham global bergerak lebih hati-hati karena meningkatnya risiko konflik regional.
Bagi pasar energi, perhatian kini tertuju pada perkembangan situasi di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun berpotensi memicu lonjakan harga yang lebih besar dan meningkatkan tekanan terhadap inflasi global, termasuk di negara-negara pengimpor energi.
Pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan dari Amerika Serikat maupun Iran. Apabila eskalasi terus meningkat dan distribusi minyak dari Timur Tengah benar-benar terganggu, harga minyak dunia diperkirakan masih memiliki ruang untuk bergerak lebih tinggi dalam waktu dekat. (Firman/Mun)
-
NASIONAL07/07/2026 13:00 WIBFernando Emas Desak Dody Hanggodo Minta Maaf
-
RAGAM07/07/2026 14:30 WIBErupsi Anak Krakatau Hantam Wisata Selat Sunda
-
NASIONAL07/07/2026 18:00 WIBKPK Periksa Sembilan Saksi Kasus Suap Bupati Muara Enim
-
JABODETABEK07/07/2026 13:30 WIBLift Barang Roxy Makan Korban Jiwa
-
NASIONAL07/07/2026 19:44 WIBLonjakan Harta Zita Anjani, AHY, dan Ibas di LHKPN Berujung Desakan Audit dan Laporan ke KPK
-
NASIONAL07/07/2026 16:00 WIBRUU Keaman Siber Beri Peran Penyidikan bagi TNI, Ini Kata Komisi I
-
NASIONAL07/07/2026 14:47 WIBKejari Jabar Diminta Usut Dugaan Penyalahgunaan Anggaran Helikopter oleh KPU
-
RAGAM07/07/2026 15:30 WIBNegara Milik Andara? Gurita Kekuasaan Raffi Ahmad Kepung BUMN dan Birokrasi