Connect with us

EKBIS

Harga Minyak Melonjak Gila-Gilaan

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Pasar energi global kembali bergejolak. Harga minyak dunia melonjak tajam pada penutupan perdagangan Senin (13/7/2026) waktu setempat atau Selasa (14/7/2026) pagi WIB setelah Amerika Serikat mengumumkan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap seluruh wilayah pesisir Iran.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelancaran pasokan minyak dunia, terutama melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan utama pengiriman energi global.

Mengacu pada data Reuters, harga minyak mentah Brent melonjak US$7,29 atau 9,59 persen menjadi US$83,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik US$6,73 atau 9,42 persen ke level US$78,14 per barel.

Pada perdagangan berikutnya, reli harga masih berlanjut. Reuters mencatat Brent kembali menguat US$1,68 atau sekitar 2 persen menjadi US$84,98 per barel, sedangkan WTI naik US$1,65 atau 2,1 persen ke posisi US$79,79 per barel.

Sementara itu, data Investing menunjukkan kontrak berjangka Brent untuk pengiriman September melonjak sekitar 9,2 persen ke US$82,99 per barel, sedangkan kontrak WTI pengiriman Agustus naik sekitar 8,8 persen menjadi US$77,70 per barel.

Lonjakan tersebut menjadi salah satu kenaikan harian terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Brent mencatat penguatan harian terbesar sejak awal April sekaligus mencapai level penutupan tertinggi sejak pertengahan Juni. WTI juga membukukan kenaikan harian terbesar sejak akhir April dan berada di level tertinggi dalam sekitar satu bulan.

Sentimen utama yang menggerakkan pasar berasal dari pengumuman Joint Maritime Information Center yang dipimpin Angkatan Laut Amerika Serikat. Lembaga tersebut menyatakan blokade laut terhadap Iran akan kembali diberlakukan mulai 14 Juli pukul 20.00 GMT.

Kebijakan terbaru itu disebut memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sebelumnya. Blokade tidak hanya mencakup pelabuhan dan terminal minyak Iran, tetapi juga seluruh garis pantai negara tersebut serta kapal-kapal yang melintas tanpa membedakan bendera negara asalnya.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan negaranya akan bertindak sebagai “penjaga Selat Hormuz”. Ia bahkan mengemukakan rencana mengenakan biaya sekitar 20 persen terhadap kargo yang melintasi jalur tersebut sebagai kompensasi atas pengamanan kawasan.

Pengumuman tersebut langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar mengenai potensi terganggunya distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk. Selat Hormuz selama ini merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia, sehingga setiap peningkatan ketegangan geopolitik di kawasan tersebut cenderung memengaruhi harga minyak global secara signifikan.

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah serta respons negara-negara terkait, mengingat dinamika di kawasan itu berpotensi terus memengaruhi pergerakan harga energi dunia dalam beberapa waktu ke depan. (Firman/Mun)

TRENDING

Exit mobile version