Connect with us

EKBIS

IHSG Bangkit 0.4% Usai 6 Hari Tumbang

Aktualitas.id -

Ilustrasi, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Setelah enam hari perdagangan terus dihajar aksi jual, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Pembukaan perdagangan Kamis (30/7/2026) menjadi angin segar bagi pelaku pasar setelah tekanan panjang yang menyeret indeks ke level terendah dalam beberapa pekan.

IHSG dibuka menguat ke 6.110,28 dari posisi penutupan sebelumnya di 6.091,39. Hingga pukul 09.03 WIB, indeks bahkan sempat melesat 0,58% ke level 6.126,77, sebelum bergerak stabil di kisaran 6.116 atau naik sekitar 0,40%.

Rebound ini sekaligus memutus tren negatif yang selama hampir sepekan membebani pasar saham Indonesia. Setelah terus didominasi aksi jual, pelaku pasar mulai melihat peluang sehingga tekanan mulai mereda dan aksi beli kembali bermunculan.

Mayoritas saham langsung menghijau sejak awal perdagangan. Lebih dari 340 saham tercatat menguat, sementara jumlah saham yang melemah jauh lebih sedikit. Kondisi tersebut menunjukkan optimisme mulai kembali tumbuh meski ketidakpastian global belum benar-benar sirna.

BACA JUGA  Rabu Pagi, IHSG Dibuka ke Level 6.449

Motor utama penguatan datang dari saham-saham berkapitalisasi besar. BBCA menguat sekitar 0,4%, sedangkan BBRI naik 0,68%, memberikan dorongan signifikan terhadap laju IHSG di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.

Nilai transaksi sejak pembukaan perdagangan telah mencapai ratusan miliar rupiah dengan volume miliaran saham berpindah tangan. Aktivitas tersebut mengindikasikan minat beli mulai kembali meningkat setelah investor sebelumnya memilih melakukan aksi jual bertubi-tubi.

Secara sektoral, hampir seluruh indeks berhasil bergerak di zona hijau. Sektor bahan baku menjadi pemimpin penguatan dengan kenaikan 1,18%, disusul consumer cyclical sebesar 0,88%, serta properti yang menguat 0,71%. Hanya sektor teknologi yang masih tertahan di zona merah dengan pelemahan tipis.

BACA JUGA  Selasa Pagi, IHSG Dibuka Melemah ke 6.252

Meski IHSG berhasil bangkit, tekanan dari luar negeri belum sepenuhnya hilang. Riset Kiwoom Sekuritas mencatat Wall Street kembali ditutup melemah akibat berlanjutnya aksi jual saham-saham semikonduktor dan melonjaknya harga minyak yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Lonjakan harga energi kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan bank-bank sentral dunia, termasuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diharapkan pasar.

Di sisi lain, keputusan Federal Reserve mempertahankan suku bunga dengan nada kebijakan yang tetap ketat membuat investor global masih berhitung. Ekspektasi suku bunga tinggi berpotensi membatasi aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pergerakan bursa Asia pun masih berlangsung beragam. Sebagian indeks melemah, sementara lainnya berhasil menguat, mencerminkan sikap investor yang masih menunggu kepastian dari data ekonomi Amerika Serikat serta laporan keuangan emiten-emiten teknologi global.

BACA JUGA  Selasa Pagi, IHSG Dibuka Naik Tipis 5 Poin ke Level 6.557

Di dalam negeri, sentimen positif datang dari pembukaan GIIAS 2026 yang diharapkan mampu menggerakkan sektor otomotif, memperkuat aktivitas manufaktur, dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional pada paruh kedua tahun ini.

Meski demikian, pelaku pasar diminta tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa tekanan telah sepenuhnya berakhir. Penguatan pagi ini memang menjadi sinyal positif setelah rentetan koreksi panjang, namun arah IHSG dalam beberapa hari ke depan masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik geopolitik, kebijakan bank sentral global, serta pergerakan dana investor asing.

Bagi investor, rebound hari ini menjadi secercah harapan bahwa pasar mulai menemukan pijakan. Namun, selama sentimen global masih bergejolak, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dan potensi perubahan arah pasar masih terbuka lebar. (Firman/Mun)

TRENDING