Connect with us

NASIONAL

Budi Utomo Jadi Titik Awal Kebangkitan Nasional Indonesia

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Namun, masih banyak yang belum memahami mengapa tanggal ini dipilih sebagai simbol bangkitnya kesadaran berbangsa.

Fajar pergerakan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari sebuah asrama mahasiswa kedokteran di Batavia (Jakarta) yang secara tidak sengaja membalikkan arah sejarah kolonialisme Belanda di Nusantara melalui jalur pemikiran dan organisasi modern.

Tanggal 20 Mei sejatinya merupakan hari berdirinya Boedi Oetomo (Budi Utomo) pada tahun 1908. Organisasi ini diakui sebagai pelopor pergerakan nasional yang mengubah strategi perjuangan bangsa: dari yang semula bersifat kedaerahan dan mengandalkan senjata fisik, menjadi perjuangan terstruktur menggunakan kekuatan pemikiran.

Akar Penderitaan Tanam Paksa dan ‘Senjata Makan Tuan’ Politik Etis

Mundur ke belakang, lahirnya Budi Utomo berakar dari penderitaan panjang rakyat akibat sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) sejak 1830. Eksploitasi besar-besaran demi mengisi kas Kerajaan Belanda yang kosong memicu kritik keras dari kaum liberal di Eropa, salah satunya lewat novel legendaris Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker (Multatuli).

Desakan tersebut akhirnya melahirkan Kebijakan Politik Etis (Politik Balas Budi) pada 17 September 1901 di bawah pemerintahan Ratu Wilhelmina. Kebijakan ini bertumpu pada tiga pilar: irigasi, emigrasi, dan edukasi.

Siapa sangka, program edukasi yang dirancang Belanda untuk mencetak tenaga administrasi murah justru menjadi senjata makan tuan. Akses pendidikan ini berhasil membuka cakrawala berpikir para pemuda bumiputra mengenai konsep kesadaran berbangsa.

Lahir dari Diskusi Asrama STOVIA dan Misteri Nama ‘Budi Utomo’

Pada tahun 1907, Dr. Wahidin Soedirohoesodo berkeliling Pulau Jawa untuk menggalang dana pendidikan (studiefonds) bagi pemuda cerdas yang kurang mampu. Gagasan brilian ini disambut hangat oleh para mahasiswa kedokteran Jawa di School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) Batavia yang kini menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Melalui diskusi intensif di dalam asrama, Soetomo bersama rekan-rekannya seperti Soeraji Tirtonegoro dan Goenawan Mangoenkoesoemo sepakat mendirikan organisasi modern pertama pada 20 Mei 1908.

Menariknya, nama “Boedi Oetomo” sendiri terbersit dari usulan Soeraji. Imam Supardi dalam buku Dr. Soetomo: Riwayat Hidup dan Perjuangannya (1951) mengisahkan, nama itu spontan muncul saat Soeraji menyaksikan Dr. Wahidin berpamitan dengan tekad membara. Soetomo dengan mata berbinar memuji tekad seniornya itu sebagai sebuah “budi yang utomo” (perilaku/budi pekerti yang utama).

Berbeda dengan gerakan radikal yang muncul belakangan, Budi Utomo bergerak secara moderat-progresif dan berfokus pada kemajuan pengajaran serta kebudayaan. Sifatnya yang kooperatif membuat organisasi ini langsung mendapat pengakuan resmi dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz dalam kurun waktu belum genap satu tahun.

Alasan Bung Karno Tetapkan 20 Mei Sebagai Harkitnas

Meski Budi Utomo lahir pada tahun 1908, penetapan tanggal 20 Mei sebagai hari nasional baru resmi diputuskan empat dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1948 oleh Presiden Soekarno.

Saat itu, Indonesia yang baru seumur jagung merdeka sedang diguncang krisis hebat akibat Agresi Militer Belanda serta ancaman perpecahan ideologi di dalam negeri (konflik internal). Atas usulan Ki Hadjar Dewantara, Bung Karno sengaja memilih momentum berdirinya Budi Utomo sebagai simbol perekat solidaritas nasional yang mulai terkoyak.

Kendati sempat menuai kritik historis karena dinilai terlalu Jawa-sentris dan elitis (priayi rendah), kehadiran Budi Utomo tetap diakui sebagai lokomotif awal yang menginspirasi lahirnya gerakan yang lebih tegas seperti Sarekat Islam dan Indische Partij.

Kini, peringatan Hari Kebangkitan Nasional bukan lagi sekadar romantisme sejarah masa lalu, melainkan alarm tahunan bagi generasi modern untuk tetap bersatu, adaptif, dan tangguh menghadapi tantangan global. (Mun)

Continue Reading

TRENDING

Exit mobile version