Connect with us

NASIONAL

Tan Malaka: Bapak Republik yang Bermimpi Indonesia Merdeka 100 Persen

Aktualitas.id -

Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka atau yang lebih dikenal sebagai Tan Malaka, foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Nama Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka atau yang lebih dikenal sebagai Tan Malaka kembali menjadi sorotan setiap tanggal 2 Juni. Lahir pada 2 Juni 1897 di Pandam Gadang, Sumatera Barat, sosok revolusioner ini dikenang sebagai salah satu pemikir paling visioner dalam sejarah bangsa, bahkan dijuluki “Bapak Republik Indonesia”.

Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Ketika sebagian besar tokoh nasional masih menempuh pendidikan dan Indonesia bahkan belum memiliki identitas kebangsaan yang utuh, Tan Malaka sudah menulis konsep tentang negara Indonesia merdeka melalui buku legendaris Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada tahun 1925.

Buku itu lahir tiga tahun sebelum Sumpah Pemuda 1928 dan dua dekade sebelum Proklamasi Kemerdekaan 1945. Di dalamnya, Tan Malaka menggagas bentuk negara republik yang merdeka, berdaulat, dan bebas dari kolonialisme.

Tak sedikit sejarawan yang menyebut gagasan tersebut menjadi salah satu fondasi intelektual lahirnya Republik Indonesia.

Namun ironisnya, sosok yang begitu besar jasanya justru lama tenggelam dari narasi sejarah nasional.

Pada masa Orde Baru, nama Tan Malaka kerap dikaitkan dengan komunisme karena kedekatannya dengan gerakan kiri internasional. Akibatnya, kiprah dan pemikirannya nyaris tidak mendapat ruang dalam buku-buku sejarah resmi, meskipun Presiden Soekarno telah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963.

Tan Malaka adalah sosok yang penuh paradoks. Ia pernah menjadi ketua PKI, tetapi kemudian berselisih keras dengan partai tersebut. Ia mendukung revolusi rakyat, namun juga menolak berbagai bentuk diktator. Ia pernah dipercaya sebagai penerima testamen politik Soekarno, tetapi pada saat yang sama menjadi pengkritik keras kebijakan pemerintah republik.

Salah satu momen paling terkenal dalam hidupnya terjadi pada Januari 1946 ketika ia bertemu Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Agus Salim. Dalam pertemuan itu, Tan Malaka melontarkan kritik tajam terhadap arah perjuangan republik yang dianggap terlalu kompromistis.

Bagi Tan Malaka, kemerdekaan tidak boleh setengah-setengah.

“Merdeka harus 100 persen.”

Kalimat itulah yang kemudian menjadi simbol perjuangannya. Ia meyakini bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya lepas dari penjajahan asing, tetapi juga menghadirkan keadilan sosial bagi petani, buruh, dan rakyat kecil.

Perjuangan Tan Malaka berakhir tragis.

Pada Februari 1949, di tengah gejolak revolusi fisik melawan Belanda, ia ditangkap dan dieksekusi oleh pasukan republik di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. Hingga puluhan tahun kemudian, keberadaan makamnya menjadi misteri.

Baru setelah penelitian panjang sejarawan Belanda Harry A. Poeze, jejak makam Tan Malaka berhasil ditemukan. Temuan itu membuka kembali diskusi mengenai salah satu tokoh paling penting sekaligus paling kontroversial dalam sejarah Indonesia.

Hari ini, lebih dari tujuh dekade setelah wafatnya, gagasan Tan Malaka tentang republik, kedaulatan rakyat, dan kemerdekaan yang utuh masih terus diperbincangkan.

Ia mungkin pernah dihapus dari buku sejarah, tetapi jejak pemikirannya tetap hidup.

Sebab jauh sebelum republik ini berdiri, Tan Malaka sudah lebih dahulu membayangkannya. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version