NASIONAL
BMKG Bongkar Penyebab Hujan Lebat di Tengah El Nino dan IOD Positif
AKTUALITAS.ID – Anomali cuaca ekstrem tengah mengepung Indonesia. Di saat fenomena El Niño sedang berada di puncak kekuatannya dan memanggang sejumlah wilayah hingga suhu 37°C, ancaman hujan lebat hingga badai justru mengintai di depan mata. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya membongkar pemicu utama di balik cuaca RI yang seolah ‘menggila’ ini.
Kondisi saat ini ibarat dua sisi mata uang yang mematikan. Di satu sisi, wilayah seperti Lampung dan Sulawesi Tengah mengalami kekeringan ekstrem dengan suhu udara yang mendidih. Namun di sisi lain, Sumatra Utara justru dihantam hujan dengan intensitas mengerikan mencapai 131,0 mm/hari, disusul Sumatra Barat (97,0 mm/hari), dan Aceh (75,0 mm/hari).
Mengapa kemarau panjang justru diwarnai hujan ekstrem? BMKG membeberkan bahwa lautan yang menghangat telah memicu ketersediaan uap air yang melimpah ruah. Uap air ini kemudian ‘dibakar’ oleh pergerakan fenomena atmosfer global yang sangat aktif—yakni penjalaran Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial.
Kondisi ini makin diperparah dengan lahirnya ‘monster’ baru: Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman serta sirkulasi siklonik di Laut Natuna. Kedua sistem ini bertabrakan, menciptakan zona konvergensi yang memaksa awan-awan konvektif tumbuh subur, memicu hujan badai disertai kilat dan angin kencang di wilayah barat Indonesia.
Melihat ancaman di depan mata, BMKG langsung membunyikan alarm Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk 29-31 Oktober 2026. Status SIAGA (ancaman hujan lebat hingga sangat lebat) resmi ditetapkan untuk wilayah Aceh, Lampung, Bengkulu, Riau, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, dan Sumatra Utara.
Bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, tanah longsor, dan sambaran petir mengintai wilayah-wilayah yang masuk zona merah tersebut. Sementara itu, belasan provinsi lain dari Jawa hingga Papua ditetapkan dalam status WASPADA.
Namun, BMKG menegaskan masyarakat tidak boleh lengah terhadap ancaman kekeringan yang masih mendominasi mayoritas wilayah. Potensi dehidrasi parah, krisis air bersih, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di area gambut masih sangat nyata. Cuaca ekstrem kali ini menuntut kewaspadaan ganda: berlindung dari terjangan air, sekaligus bertahan dari sengatan matahari.(Bowo/Mun)
-
POLITIK31/10/2026 10:00 WIBTok, MA Batalkan Ijazah SMA Wapres Gibran
-
POLITIK31/10/2026 06:00 WIBBawa-bawa Putusan MK, PKS dan PDIP Resmi Duet ‘Lawan’ Gibran
-
POLITIK31/10/2026 09:00 WIBDede Yusuf Ungkap Sejumlah Persoalan dalam Pembahasan RUU Pemilu
-
Berita31/10/2026 11:00 WIBHashim Sebut Indonesia Mampu Biayai MBG jika Penerimaan Negara Optimal
-
DUNIA31/10/2026 12:00 WIB13 Orang Tewas dalam Serangan Drone Rusia di Stasiun Kereta Ukraina
-
RIAU31/10/2026 12:27 WIBKetua DPRD Bengkalis: Lomba PBB Bukan Sekadar Perebutkan Piala
-
OASE31/10/2026 05:00 WIBIni Rahasia Mengejutkan Malam Hari dalam Al-Qur’an
-
NASIONAL31/10/2026 07:00 WIBPutusan MK: Pemindahan Ibu Kota ke IKN Tak Bisa Buru-buru