NUSANTARA
BMKG Ungkap Penyebab Bali Mendadak Lebih Dingin
AKTUALITAS.ID – Fenomena udara dingin yang belakangan membuat banyak warga dan wisatawan di Bali menggigil ternyata belum akan berakhir dalam waktu dekat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi suhu dingin masih akan bertahan hingga Agustus 2026, bertepatan dengan puncak musim kemarau.
Dalam beberapa hari terakhir, suhu malam hingga dini hari di sejumlah wilayah Pulau Bali terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya. Kondisi ini memicu banyak keluhan warga di media sosial yang mengaku harus mengenakan pakaian lebih tebal saat malam dan pagi hari.
Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III Denpasar, Brian Eko Permadi, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan siklus tahunan yang umum terjadi saat musim kemarau mulai memasuki fase puncak.
Namun demikian, suhu yang tercatat saat ini cukup menarik perhatian. Berdasarkan data stasiun klimatologi di Jembrana, suhu minimum mencapai sekitar 19 derajat Celsius. Angka itu tercatat di kawasan perkotaan, sehingga wilayah dataran tinggi diperkirakan mengalami suhu yang lebih rendah lagi.
Dataran Tinggi Berpotensi Lebih Dingin
BMKG mengungkapkan suhu di daerah pegunungan dan dataran tinggi Bali kemungkinan lebih rendah dibanding data yang tercatat di wilayah perkotaan.
Kondisi cuaca yang sangat cerah tanpa tutupan awan juga membuat suhu malam hari semakin cepat turun. Semakin sedikit awan yang menutupi langit, semakin besar panas bumi yang terlepas kembali ke atmosfer saat malam tiba.
Akibatnya, udara pada dini hari hingga menjelang matahari terbit terasa jauh lebih dingin dibanding hari-hari biasa.
Pernah Tembus 16 Derajat Celsius
BMKG juga mengungkap bahwa berdasarkan catatan historis, suhu minimum absolut di Bali pernah mencapai 16 derajat Celsius di wilayah Karangasem.
Meski terdengar sangat dingin untuk ukuran Bali yang dikenal sebagai destinasi wisata tropis, kondisi tersebut masih dikategorikan normal dan belum masuk kategori cuaca ekstrem.
Tiga Penyebab Bali Makin Dingin
BMKG menjelaskan ada tiga faktor utama yang membuat suhu udara Bali menurun.
Pertama, minimnya tutupan awan selama musim kemarau membuat panas matahari tidak tersimpan optimal di permukaan bumi.
Kedua, posisi matahari yang saat ini bergerak ke belahan bumi utara menyebabkan wilayah selatan, termasuk Bali, menerima paparan panas yang lebih sedikit.
Ketiga, aktifnya Monsun Australia membawa massa udara dingin dan kering menuju wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Pulau Bali.
Kombinasi ketiga faktor tersebut menciptakan kondisi yang membuat udara dini hari terasa jauh lebih menusuk dibanding bulan-bulan lainnya.
BMKG Ingatkan Warga dan Wisatawan
BMKG memperkirakan suhu terdingin biasanya terjadi antara pukul 01.00 hingga 06.00 pagi, dengan puncak rasa dingin menjelang subuh.
Karena itu masyarakat, pelaku wisata, dan nelayan diimbau menjaga kondisi tubuh selama periode musim kemarau ini. Penggunaan pakaian hangat, istirahat cukup, serta menjaga asupan makanan bergizi dinilai penting untuk menghindari gangguan kesehatan akibat perubahan suhu.
Dengan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus mendatang, warga Bali tampaknya masih harus bersiap menghadapi malam-malam yang lebih dingin dari biasanya selama beberapa bulan ke depan. (Kusuma/Mun)
-
JABODETABEK18/10/2026 05:30 WIBBMKG: 6 Wilayah Jakarta Cerah Membara Minggu Ini
-
NASIONAL18/10/2026 06:00 WIBAsap Karhutla Meluas, Eddy Soeparno Dorong AI untuk Memburu Titik Api
-
NASIONAL18/10/2026 04:30 WIBSenator ProDem Desak Prabowo Bentuk Satgas Khusus Usut Dugaan Karhutla
-
DUNIA18/10/2026 00:00 WIBHouthi Serang Istana Presiden Yaman
-
NASIONAL18/10/2026 00:04 WIBMensos: Karya Jurnalistik Jadi Inspirasi Pengembangan Sekolah Rakyat
-
RIAU18/10/2026 10:30 WIBDPRD Bengkalis Tekankan Pendidikan Harus Berdampak Nyata bagi Masyarakat
-
NASIONAL18/10/2026 13:00 WIBProDem Desak RUU Masyarakat Adat Segera Disahkan
-
NUSANTARA18/10/2026 06:30 WIBLima Kawasan Gunung di Jatim Terbakar