Connect with us

NUSANTARA

Lima Kawasan Gunung di Jatim Terbakar

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dalam skala masif tengah mengepung wilayah Jawa Timur. Sejak Jumat (16/10/2026) malam hingga Sabtu pagi, lima kawasan pegunungan—mulai dari Bromo hingga Arjuno-Welirang—dilaporkan membara secara bersamaan dan memaksa tim gabungan berjibaku menembus jalur darat untuk memadamkan kobaran api.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, mengonfirmasi luasnya sebaran titik api yang mengancam ekosistem pegunungan. Menurut data BPBD, kawasan Gunung Bromo menjadi salah satu titik terparah dengan tiga area yang hangus di dua kabupaten. Titik api melalap Bukit Kembang dan Gunung Ringgit di Probolinggo, serta merambat hingga Blok Kesiman di Pasuruan.

Amukan si jago merah juga melanda kawasan Gunung Sigiran di Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. Untuk mencegah bencana yang lebih besar, petugas gabungan dari Tahura dan BPBD langsung diterjunkan untuk membuat ilaran atau sekat bakar agar api tidak merambat liar.

Kondisi tak kalah mengerikan terjadi di lereng Gunung Arjuno, Kabupaten Malang. Pijar api dilaporkan berkobar hebat di area Puncak Budug Asu, memaksa personel BPBD menembus jalur pendakian terjal untuk melakukan pemadaman manual.

Masih di klaster yang sama, titik api juga ditemukan membakar kawasan Gunung Ringgit (kompleks Arjuno-Welirang) yang masuk wilayah administratif Pasuruan. BPBD Provinsi Jawa Timur telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) guna melakukan percepatan penanganan di tengah hutan.

Kawasan kelima yang ikut terdampak adalah area Tamankursi di Gunung Argopuro, Kabupaten Situbondo. Karena statusnya sebagai wilayah konservasi, penanganan karhutla di titik ini membutuhkan koordinasi lintas instansi tingkat tinggi, di mana BPBD Jatim saat ini tengah bekerja sama erat dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat untuk menjinakkan api.

Fokus utama tim gabungan saat ini adalah memantau pergerakan angin dan melakukan pemadaman secara manual secepat mungkin di area-area krusial yang masih bisa dijangkau oleh relawan dan petugas darat. (Irawan/Mun)

TRENDING

Exit mobile version