Connect with us

OASE

Al-Qur’an Ungkap Perjanjian Manusia Sebelum Dilahirkan

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Pertanyaan agung dari Allah SWT ini, menurut Al-Qur’an, pernah dijawab oleh seluruh anak cucu Nabi Adam dengan satu jawaban yang sama: “Benar, kami bersaksi.”

Peristiwa yang dikenal sebagai Al-Mitsaq atau perjanjian primordial itu diabadikan dalam Surat Al-A’raf ayat 172. Ayat tersebut menjelaskan bahwa sebelum manusia dilahirkan ke dunia, Allah mengambil kesaksian dari seluruh keturunan Adam agar kelak tidak ada seorang pun yang dapat berdalih tidak mengenal Tuhannya.

Allah SWT berfirman:

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.”

Tujuan dari kesaksian tersebut dijelaskan secara tegas, yakni agar pada Hari Kiamat manusia tidak berkata bahwa dirinya lalai atau tidak mengetahui tentang keesaan Allah.

Mengapa Banyak Manusia Lupa?

Jika seluruh manusia pernah bersaksi kepada Allah, mengapa masih banyak yang mengingkari-Nya?

Dalam penafsiran para ulama, kehidupan dunia, hawa nafsu, godaan setan, serta pengaruh lingkungan membuat manusia melupakan fitrah dan janji yang pernah diikrarkannya. Karena itulah Allah mengutus para nabi dan rasul sebagai pengingat, bukan membawa Tuhan yang baru, melainkan mengajak manusia kembali kepada pengakuan yang pernah mereka ucapkan.

Pesan yang sama ditegaskan dalam Surat Yasin ayat 60:

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu, wahai anak cucu Adam, agar kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia telah diarahkan untuk hanya menyembah Allah dan tidak mengikuti jalan yang menyesatkan.

Al-Baqarah: Orang yang Merusak Janji Adalah Golongan yang Merugi

Peringatan keras juga terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 27. Allah menyebut orang-orang yang merusak perjanjian setelah diteguhkan sebagai golongan yang merugi. Mereka memutus apa yang diperintahkan Allah untuk disambung dan membuat kerusakan di muka bumi.

Ayat tersebut memperlihatkan bahwa mengingkari petunjuk Allah bukan sekadar pelanggaran pribadi, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial dan moral manusia.

Hadis: Setiap Anak Lahir Membawa Fitrah

Penjelasan mengenai fitrah manusia diperkuat oleh hadis sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Para ulama memahami hadis ini sebagai penegasan bahwa manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk mengenal dan mengakui Allah, sejalan dengan makna kesaksian dalam Surat Al-A’raf ayat 172.

Hadis Tentang Keturunan Nabi Adam

Dalam riwayat Imam At-Tirmidzi dari Abu Hurairah RA dijelaskan bahwa ketika Allah menciptakan Nabi Adam AS, Allah memperlihatkan seluruh keturunannya hingga Hari Kiamat. Pada saat itulah Allah mengambil kesaksian dari mereka.

Riwayat ini sering dijadikan salah satu penjelasan mengenai makna perjanjian primordial yang disebut dalam Al-Qur’an, meskipun rincian bagaimana peristiwa itu terjadi dipahami secara beragam oleh para ulama tafsir.

Misi Hidup Manusia Sudah Ditetapkan

Al-Qur’an juga menegaskan tujuan penciptaan manusia.

Dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56, Allah berfirman bahwa jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Sementara dalam QS. Al-An’am ayat 162, manusia diperintahkan menjadikan shalat, ibadah, hidup, dan matinya hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Dengan demikian, ajaran Al-Qur’an menggambarkan bahwa kehidupan dunia merupakan kesempatan bagi manusia untuk membuktikan kesetiaannya terhadap pengakuan yang pernah diikrarkan kepada Allah.

Tak Ada Alasan di Hari Kiamat

Pesan utama Surat Al-A’raf ayat 172 bukan sekadar mengisahkan peristiwa sebelum kelahiran manusia. Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap orang bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.

Dalam pandangan Islam, para rasul diutus untuk mengingatkan kembali janji tersebut sehingga manusia tidak dapat beralasan bahwa mereka tidak pernah mengetahui siapa Tuhan mereka atau tidak pernah menerima petunjuk.

Karena itu, perjanjian yang disebut Al-Qur’an bukan hanya kisah tentang masa sebelum kelahiran, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kehidupan di dunia dipandang sebagai amanah untuk menepati kesaksian yang pernah diikrarkan kepada Allah SWT. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version