RAGAM
Fenomena Lonjakan Paket Jelang Lebaran
AKTUALITAS.ID – Kehadiran e-commerce yang memberikan kemudahan berbelanja, ditambah dengan berbagai program promosi menjadi pengungkit minat dan intensitas belanja masyarakat.
Momen Ramadan dan Idulfitri lekat kaitannya dengan lonjakan belanja masyarakat, mulai dari kebutuhan pokok hingga pakaian.
Peningkatan intensitas belanja ini berbanding lurus dengan lonjakan volume paket yang harus diproses oleh penyedia layanan logistik.
Kondisi ini memunculkan tantangan dalam alur pengiriman logistik, yang dapat memicu penumpukan paket di fasilitas distribusi paket sehingga proses pengiriman barang bisa menjadi lebih lama dari hari biasa.
Salah satu komentar dari warganet atas di Instagram @lolafebrianarahayu menggambarkan situasi yang dialami perusahaan ekspedisi di momen Ramadan.
“Kadang nek liat video paket numpuk dikit langsung dibilang mandek wkwk. Padahal yo lagi musim rame mau Ramadan, wong sing checkout online akeh pol. Jadi kalo keliatan paket akeh yo wajar ae sih (Kadang kalau lihat video paket numpuk sedikit langsung dibilang mandek, wkwk. Padahal lagi musim ramai mau Ramadan, orang yang checkout online banyak banget. Jadi kalau kelihatan paket banyak, ya wajar aja sih).”
Cuitan tersebut mengundang perdebatan di media sosial terkait bagaimana perusahaan ekspedisi bisa menyeimbangkan antara tuntutan pembeli untuk pengiriman yang cepat dengan beban logistik yang melonjak drastis.
Djoko Setijowarno, Akademisi Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata sekaligus Pengamat Logistik menjelaskan momen Ramadan dan Lebaran secara natural akan meningkatkan volume pemrosesan paket sejalan dengan meningkatnya permintaan serta minat belanja masyarakat.
“Sudah pasti yang namanya peningkatan volume paket akan hadir, mutlak hukumnya apalagi di momen-momen besar seperti bulan Ramadan dan juga Idulfitri, toh perusahaan ekspedisi pengiriman juga pasti memproses semua paketnya,” ujar Djoko.
“Indonesia saat ini merupakan salah satu negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia yang juga turut menambah potensi peningkatan pesanan di momen Ramadan dan Idulfitri itu sendiri,” tambahnya.
Pelaku industri logistik juga memperkirakan volume distribusi barang selama Ramadhan dapat meningkat hingga sekitar 30 persen dibandingkan periode normal.
Mahendra Rianto, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menyebutkan peningkatan ini terjadi hampir di seluruh rantai pasok, mulai dari pengiriman antardaerah hingga distribusi ke pusat konsumsi di kota-kota besar.
“Biasanya kenaikan volume dalam rantai pasok selama Ramadhan bisa mencapai sekitar 30 persen,” ujar Mahendra.
Hal senada juga tercermin dari lonjakan transaksi belanja masyarakat jelang lebaran. Data dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) juga menunjukkan bahwa transaksi belanja di e-commerce pada tahun 2025 mengalami lonjakan sebesar 15-20 persen di bulan Ramadan dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Di sisi lain, studi yang dilakukan oleh firma konsultansi manajemen global asal Amerika Serikat, McKinsey & Company1 menyoroti soal ekspektasi pelanggan belanja online terhadap kecepatan pengiriman barang yang disebut sebagai ‘Amazon Effect’.
Studi tersebut mengungkap adanya dampak psikologis yang mendalam bagi pembeli apabila terjadi keterlambatan dalam pengiriman paket, dimana 50% dari konsumen yang diteliti cenderung akan membatalkan belanjaan mereka atau mencari opsi lain apabila waktu pengiriman dianggap terlalu lama.
“Amazon Effect ini juga relevan dalam lanskap logistik di Indonesia. Dengan maraknya layanan pengiriman instan, menjadikan pembeli terbiasa dengan pengiriman yang datang secara cepat. Hal ini justru menjadi pisau bermata dua bagi perusahaan ekspedisi yang kerap menjadi kambing hitam apabila terdapat sedikit saja keterlambatan dalam pengiriman,” tambah Djoko.
Di sisi lain, konsumen cenderung tak mau tahu proses yang terjadi dalam setiap pengiriman paket. Mereka hanya menginginkan barang yang dibeli bisa cepat diterima.
“Karena pembeli sudah dimanjakan dengan fitur instan, mereka kerap kali tidak ingin tahu dan terkadang tidak peduli terhadap apa yang terjadi di balik layar. Padahal kalau kita telaah prosesnya sangat panjang dan rumit, paket harus diambil dulu lewat first mile, lalu masuk ke fasilitas distribusi untuk disortir, lalu dikirim lagi ke last mile untuk selanjutnya,” ucap Djoko terkait proses pengiriman di balik layar.
Dalam sistem logistik modern, khususnya pada sektor e-commerce, distribusi barang tidak dilakukan secara langsung dari satu titik ke titik lain. Prosesnya melibatkan konsolidasi muatan dan jaringan distribusi bertahap.
Mahendra menjelaskan bahwa pesanan yang masuk biasanya terlebih dahulu dikumpulkan hingga memenuhi kapasitas angkut kendaraan sebelum dikirim ke pusat distribusi utama atau hub logistik. “Order yang masuk biasanya dikumpulkan dulu sampai menjadi satu muatan penuh truk, kemudian dikirim dari hub ke hub besar seperti di Semarang, Bandung, atau Surabaya sebelum didistribusikan ke wilayah tujuan,” ujar Mahendra.
Tahapan distribusi ini memungkinkan perusahaan logistik mengoptimalkan kapasitas angkut kendaraan serta menekan biaya operasional. Namun ketika volume paket meningkat drastis seperti pada Ramadhan, sistem ini juga menghadapi tekanan besar karena kapasitas hub dan armada harus bekerja lebih intensif.
Dalam konteks Indonesia yang secara geografis merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan lebih dari 17.000 pulau membentang dari Sabang hingga Merauke menjadi salah satu tantangan besar dalam alur distribusi logistik.
“Konektivitas antarprovinsi dan antarpulau masih menjadi tantangan nyata. Keterbatasan infrastruktur transportasi darat, kapasitas angkutan laut dan udara yang terbatas, serta medan yang beragam di daerah terpencil adalah hambatan yang tidak bisa diabaikan dan kerap kali mempersulit proses distribusi paket,” pungkas Djoko terkait tantangan logistik di Indonesia.
Menanggapi tantangan distribusi paket, khususnya pada periode peak season seperti Ramadan dan Idulfitri, perusahaan ekspedisi di Indonesia terus berupaya untuk ‘bebenah’. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai teknologi logistik mulai diterapkan secara masif di Indonesia. Berbagai teknologi ini membantu memangkas waktu yang diperlukan untuk mengantar paket hingga ke tangan pembeli.
Salah satunya adalah perusahaan logistik SPX Express yang mengadopsi berbagai teknologi otomasi seperti conveyor otomatis, pemindai otomatis, serta sistem pengiriman berbasis data guna memberikan rute pengantaran paket yang paling efisien.
Berbagai teknologi otomasi ini juga meningkatkan kapabilitas fasilitas milik perusahaan ekspedisi sehingga bisa lebih adaptif dalam menghadapi dinamika lonjakan volume paket, khususnya di hari besar seperti jelang lebaran.
Transformasi digital di sektor logistik, mulai dari otomatisasi proses, pemanfaatan analisis data, hingga sistem pemantauan pengiriman secara langsung, tidak hanya membantu meningkatkan efisiensi layanan tapi juga meminimalisir hambatan saat terjadi lonjakan volume paket di periode Ramadan saat ini. Teknologi tersebut juga memperkuat kemampuan penyedia layanan logistik untuk mengantisipasi serta merespons berbagai perubahan maupun gangguan dengan lebih cepat.” tutup Djoko.
(Ari Wibowo/goeh)
-
NASIONAL12/03/2026 20:45 WIBSegini Harta Kekayaan Yaqut Cholil Qoumas yang Kini Ditahan KPK
-
FOTO12/03/2026 23:38 WIBFOTO: Herwyn Malonda Luncurkan Buku Bawaslu di Tengah Era Big Data
-
FOTO13/03/2026 15:20 WIBFOTO: Media Gathering dan Buka Puasa Dewan Nasional KEK
-
OLAHRAGA12/03/2026 21:30 WIBTimnas Iran Mundur dari Piala Dunia 2026
-
JABODETABEK12/03/2026 22:00 WIB13 Maret 2026, Angkutan Barang Mulai Dibatasi Masuk Jalan Tol
-
EKBIS12/03/2026 21:00 WIBBahas Penguatan Sektor Pangan, Gubernur Papua Barat temui Mentan
-
PAPUA TENGAH12/03/2026 21:46 WIBPolisi Dalami Penembakan di Area Tambang Grasberg Freeport
-
EKBIS12/03/2026 23:30 WIBDukung Penerbangan Lebaran, Pertamina Berikan Diskon Harga Avtur

















