Berita
Pasar Global, Harga Emas Jatuh di Level Terendah
Kejatuhan harga emas disebabkan optimisme terhadap kesepakatan perdagangan Amerika Serikat dan China
AKTUALITAS.ID – Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir di level terendah tiga bulan pada Kamis (7/11) atau Jumat (8/11) pagi WIB. Kejatuhan harga emas disebabkan optimisme terhadap kesepakatan perdagangan Amerika Serikat dan China menumpulkan daya tarik safe haven logam mulia.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember jatuh 26,7 dolar AS atau 1,79 persen, menjadi ditutup pada 1.466,4 dolar AS per ounce.
Kementerian Perdagangan China pada Kamis (7/11) menyatakan bahwa China dan Amerika Serikat sepakat untuk menarik semua tarif yang diberlakukan oleh kedua negara. Pernyataan ini membantu meringankan ketidakpastian perdagangan yang membebani ekonomi global.
“Di dua minggu ini, para negosiator telah melakukan pembicaraan serius, diskusi konstruktif dan setuju untuk menghilangkan tarif-tarif tambahan di fase (kesepakatan) sebagai progres dari perjanjian yang tengah berjalan,” kata Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng.
“Jika China, AS, mencapai kesepakatan dagang fase pertama, kedua negara harus meninjau kembali semua tarif tambahan dengan proporsi yang sama secara keseluruhan berdasarkan isi perjanjian, yang mana menjadi situasi penting untuk tercapainya kesepakatan,” katanya.
Greenback yang lebih kuat juga membatasi pembelian safe haven emas. Indeks dolar AS, yang mengukur dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,21 persen menjadi 98,16 pada pukul 18.30 GMT, sebelum penyelesaian transaksi emas.
Emas biasanya bergerak berlawanan arah dengan dolar AS, yang berarti jika dolar menguat maka emas berjangka akan jatuh, karena emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 58,8 sen atau 3,34 persen, menjadi ditutup pada 17,01 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 17,7 dolar AS atau 1,9 persen, menjadi 914 dolar AS per ounce.
-
OLAHRAGA23/06/2026 03:00 WIBInggris vs Ghana: Misi Lolos Grup L Piala Dunia 2026
-
NASIONAL23/06/2026 08:30 WIBKetua BEM FH UBK Ngaku Terima Rp 20 Juta dari Oknum Polisi Jelang Demo
-
POLITIK23/06/2026 16:15 WIBRoy Suryo dan Dokter Tifa Dapat Penagguhan, Analis Sebut Jokowi Tertekan
-
OLAHRAGA23/06/2026 04:33 WIBJadwal Piala Dunia 2026: Pekan Sengit Penentu Kelolosan
-
NASIONAL23/06/2026 17:16 WIBIstana akan Telusuri Dugaan Mahasiswa UBK Terima Uang Usai Demo dan Audiensi dengan Wapres
-
POLITIK23/06/2026 17:01 WIBDjarot: Jokowi Itu Siapkan Gibran Jadi Presiden Ketimbang Dukung Dua Periode Prabowo
-
POLITIK23/06/2026 11:00 WIBAHY Wacana Prabowo Gibran 2 Periode Masih Terlalu Dini
-
DUNIA23/06/2026 12:00 WIBAS Siapkan Rudal Tomahawk di Jepang

















