RAGAM
Es Kutub Terus Mencair, Arkeolog Temukan Jejak Kehidupan Kuno di Bawahnya
AKTUALITAS.ID – Fenomena pemanasan global kini tidak hanya memicu ancaman naiknya level permukaan air laut dan bencana alam, tetapi juga memunculkan fenomena tak terduga. Mencairnya lapisan es secara masif di berbagai belahan bumi seolah menjadi “tanda kiamat” lingkungan, sekaligus membuka rahasia ‘dunia hilang’ yang telah terkubur selama ribuan tahun.
Para peneliti melaporkan bahwa pencairan es ekstrem akibat tingginya emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca telah menyingkap keberadaan banyak ‘dunia lain’ di bawah lapisan es purba.
Laju pencairan yang semakin intens dari waktu ke waktu ini paradoksnya membawa keuntungan bagi ilmu pengetahuan, khususnya di bidang arkeologi. Benda-benda kuno yang dulunya tertutup rapat kini mulai bermunculan ke permukaan.
Salah satu tonggak penting dari fenomena ini adalah penemuan jasad manusia purba yang terawetkan sempurna secara alami selama ribuan tahun. Jasad yang dikenal sebagai Otzi ini ditemukan di Pegunungan Alpen pada tahun 1991 silam.
Kondisi beku membuat material organik di sekitar Otzi, seperti serat tanaman, kayu, dan kulit hewan, tidak membusuk dan bisa langsung diteliti. Penemuan dari abad Neolitikum ini pada akhirnya melahirkan cabang ilmu baru yang disebut arkeologi bongkahan es (ice patch archaeology).
Seiring makin parahnya krisis iklim, para arkeolog terus menemukan jejak peradaban manusia yang terkubur dari bongkahan es yang digali di kawasan Eropa, Amerika Utara, hingga Asia.
Mengutip jurnal Nature, Rabu (4/3/2026), peneliti menemukan bukti aktivitas manusia purba yang berburu dan menggembalakan rusa kutub sejak 6.000 tahun lalu. Temuan luar biasa ini berasal dari terowongan es sepanjang 70 meter yang diukir di lapisan es Juvfonne, Norwegia. Banyak artefak kuno terkait perburuan hewan besar yang kini kembali terlihat.
Jejak peradaban yang lebih tua juga ditemukan di Pegunungan Rocky pada tahun 2007. Arkeolog Craig Lee berhasil menemukan artefak lapisan es tertua berupa alat pelempar anak panah atau lembing. Berdasarkan penanggalan karbon, bagian poros depan alat yang terbuat dari pohon muda kulit birch tersebut diperkirakan berusia 10.300 tahun. (Firmansyah/Mun)
-
NASIONAL05/03/2026 00:02 WIBKasus Kosmetik Ilegal Mengandung Merkuri dan Hidrokuinon Dibongkar Polisi
-
DUNIA04/03/2026 23:30 WIBSpanyol: AS Tida Beritahu Sekutunya Soal Serangan ke Iran
-
OLAHRAGA04/03/2026 17:30 WIBFajar/Fikri Melaju ke Babak Kedua All England 2026
-
RAGAM04/03/2026 18:00 WIBGangguan Bicara pada Anak Bisa Jadi Penanda Masalah Pendengaran
-
NASIONAL04/03/2026 21:46 WIBKomisi III DPR Apresiasi Polda Riau Bongkar Perburuan Gajah Sumatera
-
PAPUA TENGAH04/03/2026 23:00 WIBTekan Kasus Malaria, Dinkes Papua Tengah Optimalkan Kolaborasi
-
FOTO05/03/2026 08:54 WIBFOTO: Pidato AHY di Bukber Partai Demokrat
-
NUSANTARA04/03/2026 18:30 WIBPenguatan Sistem Pertahanan IKN Jadi Prioritas

















