EKBIS
Rupiah Jeblok ke Rp18.056 per Dolar AS
AKTUALITS.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Jumat (5/6/2026). Mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meskipun indeks dolar global justru menunjukkan tren penurunan di pasar internasional.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp18.056 per dolar AS atau melemah tujuh poin setara 0,04 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp18.049 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di level Rp18.034 per dolar AS. Posisi tersebut lebih lemah dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.926 per dolar AS.
Data RTI Infokom juga memperlihatkan rupiah dibuka pada level Rp18.051 per dolar AS atau turun 0,02 persen. Secara bulanan, rupiah telah melemah 3,68 persen, sedangkan sejak awal tahun depresiasinya mencapai 8,24 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Meski demikian, pergerakan kurs masih menunjukkan fluktuasi. Berdasarkan pantauan Google Finance pada pukul 09.10 WIB, dolar AS terhadap rupiah turun tipis 0,11 persen menjadi Rp18.040. Tiga menit kemudian, kurs bergerak ke kisaran Rp18.027 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Hingga pukul 09.00 WIB, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah merosot 1,04 persen.
Ringgit Malaysia menyusul dengan penurunan 0,48 persen, diikuti baht Thailand yang melemah 0,10 persen. Dolar Taiwan turun 0,07 persen, sementara dolar Singapura juga terkoreksi 0,07 persen. Yuan China ikut melemah tipis sebesar 0,03 persen.
Di sisi lain, peso Filipina menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia setelah menguat 0,12 persen terhadap dolar AS. Yen Jepang naik 0,04 persen, sedangkan dolar Hong Kong menguat tipis 0,02 persen.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa indeks dolar AS (DXY) turun ke level 99,2 setelah sebelumnya menguat selama tiga sesi perdagangan berturut-turut.
Menurutnya, pelemahan indeks dolar dipicu oleh turunnya harga minyak dunia di tengah meningkatnya optimisme terhadap kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Harapan juga muncul bahwa perkembangan tersebut dapat membuka ruang diplomasi yang lebih luas dengan Iran.
Namun demikian, Andry menilai risiko global masih cukup tinggi sehingga belum mampu memberikan dorongan signifikan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Ketidakpastian masih tetap tinggi dan situasi geopolitik masih sangat rapuh. Harga minyak masih berada di atas level sebelum konflik, sementara dolar AS tetap diperdagangkan dekat level tertinggi dalam dua bulan terakhir,” ujarnya.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS. Selama ketidakpastian global masih berlangsung, rupiah diperkirakan akan tetap bergerak volatil dan rentan terhadap tekanan eksternal.
Dengan posisi yang masih bertahan di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS, pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan menjadi perhatian utama investor dan pelaku pasar keuangan domestik. (Firman/Mun)
-
FOTO22/07/2026 19:28 WIBFOTO: Sudaryono Sapa Staf BGN
-
FOTO22/07/2026 22:00 WIBFOTO: Bangun Paulus Tudungta Jalani Sidang Dugaan Pemerasan
-
JABODETABEK22/07/2026 20:00 WIBRefly Harun Ungkap Kronologi Dugaan Pemerasan Bangun Paulus terhadap VL
-
EKBIS22/07/2026 20:15 WIBKementerian PKP Sederhanakan Persyaratan Program Bedah Rumah, Tata Kelola Tetap Terjaga
-
POLITIK22/07/2026 18:30 WIBBawaslu Kampus Connect Dorong Mahasiswa Jadi Agen Literasi Digital Pemilu
-
DUNIA22/07/2026 12:00 WIBPresiden Iran Deklarasikan ‘Perang Total’ Lawan AS
-
NUSANTARA22/07/2026 13:30 WIBBikin Geger! Gundukan Raksasa di Grobogan Ternyata Bukan Gunung Api
-
JABODETABEK22/07/2026 20:35 WIBSidang Dugaan Pemerasan yang Dilakukan Oknum Pengacara Ditunda hingga 10 Agustus

















