DUNIA
Senat Gabung DPR Paksa Trump Stop Perang Iran
AKTUALITAS.ID – Dukungan politik yang selama ini menjadi tameng Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mulai menunjukkan retakan serius. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS kompak mengesahkan resolusi yang mendesak presiden menghentikan keterlibatan militer Amerika dalam perang melawan Iran.
Keputusan Senat yang meloloskan resolusi dengan suara 50 berbanding 48 menjadi sinyal politik yang mengguncang Washington. Langkah tersebut memperlihatkan meningkatnya kegelisahan Kongres terhadap eskalasi konflik Iran yang berpotensi menyeret Amerika ke perang berkepanjangan dan berbiaya mahal.
Meski resolusi itu tidak memiliki kekuatan hukum untuk memaksa Gedung Putih menarik pasukan, pesan politik yang dikirim sangat jelas: semakin banyak anggota Kongres yang tidak lagi bersedia memberikan cek kosong kepada Trump untuk melanjutkan operasi militer di Timur Tengah.
Yang membuat situasi semakin menarik, perlawanan itu tidak hanya datang dari Partai Demokrat. Sejumlah anggota Partai Republik mulai mengambil jarak dari kebijakan perang Trump dan memilih bergabung mendukung resolusi tersebut.
Ini menjadi pukulan simbolik yang jarang terjadi bagi Trump. Selama bertahun-tahun, presiden dikenal mampu menjaga soliditas dukungan Partai Republik di Kongres. Namun perang Iran tampaknya menjadi isu yang mulai memecah kesatuan politik di dalam kubunya sendiri.
Momentum ini muncul ketika Gedung Putih diperkirakan akan meminta tambahan dana puluhan miliar dolar AS untuk membiayai operasi militer. Jika perlawanan internal Partai Republik terus membesar, jalan Trump untuk mendapatkan dukungan anggaran bisa menjadi jauh lebih sulit.
Tanda-tanda pembangkangan sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah legislator Republik mulai menolak proposal anggaran bernilai miliaran dolar yang didorong Trump, sekaligus menahan sejumlah rancangan undang-undang prioritas pemerintahannya.
Tekanan terhadap Trump juga datang dari publik Amerika. Hasil survei Reuters/Ipsos menunjukkan hanya sekitar seperempat warga AS yang percaya perang melawan Iran layak diteruskan jika melihat biaya dan risiko yang harus ditanggung.
Mayoritas responden bahkan khawatir bahwa gencatan senjata dengan Teheran tidak akan bertahan lama, sehingga Amerika berpotensi kembali terjebak dalam konflik yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Merespons hasil pemungutan suara tersebut, Trump langsung meluapkan kemarahannya. Dalam unggahan di media sosial, ia menyebut resolusi itu “tidak tepat waktu” dan “tidak berarti”. Trump juga menuding para pendukung resolusi secara tidak langsung memberikan keuntungan politik kepada Iran.
Namun terlepas dari kemarahan Gedung Putih, pesan yang muncul dari Capitol Hill sulit diabaikan. Untuk pertama kalinya sejak Undang-Undang Kekuasaan Perang diberlakukan pada 1973, kedua kamar Kongres secara bersamaan mengambil sikap yang menentang keterlibatan militer presiden dalam konflik luar negeri.
Peristiwa ini bukan sekadar pemungutan suara biasa. Ini adalah sinyal bahwa perang Iran mulai berubah dari isu keamanan nasional menjadi ancaman politik yang dapat menggerus dukungan Trump, bahkan dari dalam barisan partainya sendiri. Jika gelombang penolakan terus membesar, perang yang awalnya ditujukan untuk menekan Iran justru bisa berubah menjadi medan pertempuran politik yang paling berbahaya bagi Trump di Washington. (Mun)
-
RAGAM24/06/2026 17:13 WIBDi Tengah Padatnya Aktivitas, Mashudi Benarto dan Elvi Cahyani Rayakan Dua Tahun Cinta dengan Makan Malam Romantis
-
EKBIS24/06/2026 11:30 WIBSelat Hormuz Lancar, Harga Minyak Dunia Turun
-
NASIONAL24/06/2026 17:48 WIBKPK Telusuri Setoran PT Blueray Cargo ke BPOM dan Kemendag
-
NUSANTARA24/06/2026 11:00 WIB2 Peserta SPPI Tewas Saat Latihan Militer
-
POLITIK24/06/2026 13:00 WIBPengamat: Wacana 2 Periode Prabowo – Gibran Dinilai Punya Misi Tersembunyi
-
RIAU24/06/2026 12:45 WIBOperasi Senyap, Polresta Pekanbaru Gerebek Gudang Narkoba di Apartemen Mewah
-
POLITIK24/06/2026 14:00 WIBGerindra Bantah Keras Isu Instruksi Budi Djiwandono Awasi Gibran
-
POLITIK24/06/2026 20:00 WIBDPD: Politik Uang dan Hoaks Kian Menggerus Kualitas Demokrasi Indonesia

















