Berita
Bangladesh Eksekusi Pembunuh Mantan Perdana Menteri
Bangladesh telah mengeksekusi seorang pemimpin militer kurang dari seminggu usai ditangkap setelah hampir 25 tahun buron atas pembunuhan pemimpin pendiri negara itu, seorang menteri mengatakan pada Minggu (12/4/2020). Sheikh Mujibur Rahman, ayah dari Perdana Menteri saat ini Sheikh Hasina, tewas bersama sebagian besar anggota keluarganya dalam kudeta militer pada 15 Agustus 1975, hampir empat tahun […]
Bangladesh telah mengeksekusi seorang pemimpin militer kurang dari seminggu usai ditangkap setelah hampir 25 tahun buron atas pembunuhan pemimpin pendiri negara itu, seorang menteri mengatakan pada Minggu (12/4/2020).
Sheikh Mujibur Rahman, ayah dari Perdana Menteri saat ini Sheikh Hasina, tewas bersama sebagian besar anggota keluarganya dalam kudeta militer pada 15 Agustus 1975, hampir empat tahun setelah ia memimpin Bangladesh menuju kemerdekaan dari Pakistan.
Pada tahun 1998, Abdul Majed dihukum mati dalam ketidakhadiran (in absentia) bersama belasan perwira militer lainnya atas pembunuhan tersebut.
Mahkamah Agung Bangladesh menguatkan putusan pada tahun 2009 dan lima dari pembunuh itu dieksekusi beberapa bulan kemudian.
Pada hari Selasa (7/4), petugas polisi anti-terorisme menangkap Majed saat ia sedang naik angkutan umum di ibukota pada pagi hari.
Otoritas penjara Bangladesh melakukan eksekusi Majed dengan cara menggantung beberapa hari kemudian, setelah presiden negara itu menolak permohonan belas kasihan.
“Dia digantung hingga tewas pada pukul 12.01 pagi hari Minggu,” menteri hukum Anisul Huq mengatakan kepada AFP, menambahkan eksekusi terjadi di penjara terbesar di negara itu, di luar ibukota Dhaka.
Majed diyakini sempat melarikan diri ke India pada tahun 1996. Dia kembali ke Bangladesh bulan lalu.
Istri Majed bertemu dengannya di penjara untuk terakhir kalinya pada Sabtu (11/4) malam ketika otoritas penjara telah menjadwalkan eksekusi.
Keamanan telah diperketat di daerah-daerah di luar penjara di kota Keraniganj, dengan sejumlah polisi berpatroli di penjara, kata kepala polisi distrik Dhaka Maruf Hossain Sorder kepada AFP.
Perdana Menteri Hasina, yang perayaan publiknya untuk peringatan 100 tahun kelahiran ayahnya tertunda oleh pandemi virus corona, berada di Eropa bersama saudara perempuannya pada saat serangan tahun 1975.
Dalam sebuah pesan video, menteri dalam negeri Bangladesh minggu ini menyebut penangkapan Majed “hadiah terbaik tahun keseratus tahun Mujib”.
Jalan untuk mendapatkan keadilan bagi pembunuhan tahun 1975 itu panjang, dan isu pembunuhan terus meracuni panggung politik Bangladesh yang masih suram hingga hari ini.
Pemerintahan militer pasca-kudeta berturut-turut memberi penghargaan kepada para pembunuh dengan posisi diplomatik dan beberapa dari mereka bahkan diizinkan untuk membentuk partai politik dan pemilihan pada tahun 1980-an.
Selama 21 tahun, hukum yang diberlakukan oleh pemerintah pasca kudeta mencegah penuntutan terhadap para pembunuh. Itu sempat dibatalkan setelah Hasina berkuasa pada tahun 1996.
Hasina juga telah lama menuduh Ziaur Rahman, presiden dari tahun 1977 hingga pembunuhannya pada tahun 1981, menjadi otak pembunuhan ayahnya.
Tuduhan itu dibantah oleh mantan istrinya, Khaleda Zia, perdana menteri dari 1991-1996 dan 2001-2006 serta mantan sekutu Hasina yang kemudian menjadi musuh bebuyutan dan dihukum karena korupsi pada tahun 2018.
-
POLITIK19/04/2026 14:00 WIBHasto: Kritik Itu Sehat bagi Demokrasi
-
RAGAM19/04/2026 15:30 WIBDiabetes Bisa Dikendalikan dengan Pola Hidup Sehat
-
DUNIA19/04/2026 12:00 WIBMacron Ngamuk Usai Tentara Prancis Tewas di Lebanon
-
NASIONAL19/04/2026 13:00 WIBTNI Tegaskan Operasi di Papua Tak Terkait Kematian Anak
-
JABODETABEK19/04/2026 09:30 WIBPolisi Bongkar Praktik Ilegal LPG di Cileungsi
-
EKBIS19/04/2026 09:00 WIBDPR Ingatkan Kenaikan BBM Bisa Picu Efek Domino
-
JABODETABEK19/04/2026 10:30 WIBJakarta Siaga Hujan Lebat Hingga 21 April
-
NASIONAL19/04/2026 11:00 WIBPigai: Kritik Tak Bisa Dipidana

















