OLAHRAGA
Nama Besar Indonesia Tak Lagi Cukup di Piala Thomas dan Uber 2026
AKTUALITAS.ID – Tim bulutangkis Indonesia berada di tengah perubahan. Dengan 14 gelar Piala Thomas, Merah Putih tetap menjadi tim tersukses dalam sejarah.
Di tengah riuh tradisi yang telah mengakar puluhan tahun, gengsi Piala Thomas dan Uber 2026 di Horsens (24 April–3 Mei) tetap berdiri tegak sebagai panggung prestise bulu tangkis dunia.
Namun, arah persaingan dalam beberapa edisi terakhir mengirimkan pesan yang kian terang, bahwa nama besar tidak lagi cukup untuk menjamin kemenangan.
Format beregu menempatkan kemenangan sebagai hasil kerja kolektif, bukan dominasi individual. Dalam konteks ini, kedalaman skuad dan stabilitas performa menjadi faktor yang jauh lebih menentukan dibanding sekadar kehadiran satu atau dua pemain elite.
Status itu secara otomatis menempatkan Indonesia sebagai kandidat juara di setiap edisi. Namun, realitas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu berjalan seiring dengan hasil.
Dua edisi terakhir menjadi contoh paling konkret. Indonesia mampu menembus final, tetapi gagal menuntaskannya dengan gelar.
Pada 2022 di Bangkok, Indonesia harus mengakui keunggulan India dengan skor 0-3. Hasil ini juga sekaligus menandai lahirnya kekuatan baru, karena India untuk kali pertama menjadi juara di ajang beregu paling bergengsi di dunia.
Dua tahun berselang di Chengdu, China kembali menunjukkan konsistensinya dengan mengalahkan Indonesia 3-1 di final.
Gelar terakhir Indonesia justru datang di Aarhus, Denmark, pada edisi 2020. Kini, ketika turnamen kembali digelar di negara yang sama, muncul pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar peluang. Apakah Indonesia siap secara tim, bukan hanya secara individu?
Di atas kertas, komposisi skuad Indonesia tetap kompetitif. Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting menjadi jangkar di sektor tunggal putra. Keduanya memiliki pengalaman dan kualitas untuk menghadapi tekanan di level tertinggi.
Namun, dalam format beregu, kekuatan tidak berhenti pada partai pertama atau kedua. Ketika pertandingan berjalan hingga partai keempat atau kelima, peran pemain pelapis menjadi krusial.
Di titik inilah Indonesia beberapa kali kehilangan kendali, Bukan karena kekurangan kualitas, tetapi karena distribusi kekuatan yang belum benar-benar merata. Hal ini juga menjadi ujian bagi pemain muda seperti Alwi Farhan dan M. Zaki Ubaidillah.
Di sektor ganda, Indonesia mengandalkan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri sebagai tumpuan. Kehadiran pasangan non-pelatnas Sabar Karyaman Gutama/Moh. Reza Pahlevi Isfahani menambah opsi, sementara duet muda Raymond Indra/Nikolaus Joaquin mulai diproyeksikan sebagai kekuatan baru. Namun, konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terjawab.
Masalah ini sejatinya tidak hanya dialami Indonesia.
Negara-negara yang mampu menjaga performa cenderung memiliki sistem yang lebih stabil. China, misalnya, tidak hanya bergantung pada pemain utama, tetapi juga memiliki lapisan kedua dan ketiga yang siap tampil dengan kualitas relatif setara. Jepang dan Korea Selatan menunjukkan pola serupa—regenerasi yang terjaga menjadi fondasi utama kekuatan mereka.
Di luar kekuatan tradisional, dinamika baru juga mulai terlihat.
Di Grup D, Indonesia tergabung bersama Prancis, Thailand, dan Aljazair.
Prancis menjadi salah satu tim yang patut diperhitungkan setelah tampil sebagai juara Eropa 2026. Trio tunggal Christo Popov, Toma Junior Popov, dan Alex Lanier memberikan kedalaman yang jarang dimiliki tim Eropa sebelumnya, sementara sektor ganda diperkuat kombinasi Popov dan Thom Gicquel.
Thailand juga menghadirkan ancaman dengan karakter berbeda. Kunlavut Vitidsarn menjadi tulang punggung dengan permainan yang solid dan konsisten, didukung Panitchaphon Teeraratsakul yang mulai stabil di level atas, serta pengalaman Dechapol Puavaranukroh di sektor ganda.
Dalam konteks ini, fase grup memang memberi ruang bagi Indonesia untuk mengamankan langkah ke babak berikutnya. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa fase gugur adalah titik krusial yang sering kali menjadi batas.
Di babak inilah Indonesia akan kembali berhadapan dengan tim-tim yang tidak hanya kuat secara individu, tetapi juga solid sebagai unit.
China, Jepang, Korea Selatan, hingga Denmark sebagai tuan rumah memiliki keunggulan dalam hal kedalaman skuad dan stabilitas permainan.
Perubahan lanskap ini tidak lepas dari perkembangan sport science dan manajemen performa. Pendekatan yang lebih sistematis membuat negara-negara mampu menjaga kualitas pemain secara merata.
Akibatnya, jarak antarnegara makin tipis, dan tidak ada lagi pertandingan yang benar-benar bisa dianggap formalitas. Seperti yang kerap dikatakan para pemain Indonesia, “siapa yang lebih siap, dia yang akan menang”.
Piala Uber
Di sektor putri, kompleksitas yang dihadapi Indonesia bahkan lebih besar. Dalam Uber Cup, Indonesia masih berada dalam fase pembangunan.
Putri Kusuma Wardani menjadi tumpuan utama di sektor tunggal, dengan konsistensi yang mulai terlihat di level atas.
Namun, di bawahnya, kedalaman masih menjadi persoalan. Ester Nurumi Tri Wardoyo, Thalita Ramadhani Wiryawan, dan Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi masih dalam proses berkembang. Padahal, dalam format Uber Cup, sektor tunggal memainkan tiga partai, menjadikannya penentu utama.
Di sektor ganda, situasinya tidak kalah menantang. Rotasi pasangan yang melibatkan Siti Fadia Silva Ramadhanti, Febriana Dwipuji Kusuma, Amallia Cahaya Pratiwi, hingga Meilysa Trias Puspitasari, Rachel Allessya Rose menunjukkan bahwa komposisi ideal belum sepenuhnya terbentuk.
Di fase grup, Indonesia tergabung bersama Taiwan, Kanada, dan Australia. Peluang lolos tetap terbuka, dan Taiwan akan menjadi ujian awal. Selebihnya, tantangan terbesar tetap berada di fase gugur, ketika harus menghadapi tim-tim dengan struktur lebih matang seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.
Sejarah mencatat Indonesia baru tiga kali menjuarai Uber Cup—1975, 1994, dan 1996. Sejak itu, gelar tak kunjung kembali. Pencapaian final pada 2024 sempat membuka harapan, tetapi kembali terhenti oleh China.
Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan Indonesia bukan semata pada potensi, melainkan pada kemampuan mengelola potensi tersebut dalam sistem yang utuh.
Dalam turnamen beregu, keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh siapa yang terbaik, tetapi siapa yang paling siap dalam segala aspek mulai teknis, mental, hingga strategis.
Piala Thomas dan Uber 2026 bukan hanya ajang perebutan trofi. Supremasi kejuaraan beregu putra dan putri ini menjadi refleksi bagi kekuatan sistem bulu tangkis sebuah negara.
Dengan kekuatan yang lebih merata, satu kesimpulan menjadi tak terelakkan, bahwa nama besar tetap penting, tetapi tanpa kedalaman dan konsistensi, itu tidak lagi cukup untuk memastikan kemenangan.
(Yan Kusuma/goeh)
-
NASIONAL17/04/2026 20:00 WIBBuku Baru DKPP Bongkar Gagasan Besar Jimly soal Etika
-
DUNIA17/04/2026 19:00 WIB1 Juta Warga Eropa Desak Uni Eropa Putus Kerja Sama dengan Israel
-
JABODETABEK18/04/2026 05:30 WIBRencana Weekend ke Luar? Cek Dulu Prakiraan Hujan Jakarta 18 April
-
DUNIA18/04/2026 08:00 WIBIran Umumkan Jalur Minyak Global Kembali Normal
-
POLITIK18/04/2026 11:00 WIBKPK Usulkan 5 Jurus Cegah Politik Uang
-
POLITIK18/04/2026 06:00 WIBEfek Jokowi Luntur? Survei Terbaru Sebut PSI Tetap Jadi Partai Gurem
-
OTOTEK18/04/2026 09:30 WIB602 Juta Iklan Penipuan Online Diblokir Google Sepanjang 2025
-
JABODETABEK18/04/2026 10:30 WIB1 Pelajar Diamankan Warga Usai Serang Siswa SMP di Tambun Selatan

















