EKBIS
Rupiah Kian Terpuruk ke Rp18.000 per Dolar
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Jumat (24/7/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bahkan menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan paling dalam di kawasan Asia pada perdagangan pagi.
Berdasarkan perdagangan pasar spot, hingga sekitar pukul 09.12 WIB, rupiah berada di kisaran Rp17.977 per dolar AS, melemah sekitar 0,23 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.936 per dolar AS.
Data Bloomberg juga menunjukkan rupiah dibuka turun 33 poin atau sekitar 0,18 persen ke level Rp17.969 per dolar AS. Sementara data pasar lain mencatat rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.979 per dolar AS, turun sekitar 43 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Di pasar perbankan, kurs dolar AS diperdagangkan mendekati Rp17.990, memperlihatkan posisi rupiah yang masih berada sangat dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika mayoritas mata uang Asia juga bergerak melemah terhadap dolar AS. Namun, rupiah tercatat sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam pada awal perdagangan.
Setelah rupiah, pelemahan diikuti oleh ringgit Malaysia sekitar 0,13 persen, dolar Taiwan dan peso Filipina sekitar 0,10 persen, sementara dolar Hong Kong, dolar Singapura, dan yuan China hanya mengalami koreksi tipis.
Di sisi lain, tidak semua mata uang Asia mengalami tekanan. Won Korea Selatan justru menguat sekitar 0,83 persen, disusul yen Jepang dan baht Thailand yang juga mencatat penguatan tipis terhadap dolar AS.
Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) berada di kisaran 101,38, sedikit lebih rendah dibandingkan posisi sehari sebelumnya di 101,44. Meski indeks dolar melemah tipis, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di tengah kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan ekonomi global dan arus modal.
Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar keuangan domestik, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka melemah pada awal perdagangan.
Pelaku pasar kini mencermati berbagai sentimen eksternal, mulai dari dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat, pergerakan harga komoditas global, hingga arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia yang masih berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam beberapa waktu ke depan. (Firman/Mun)
-
RAGAM23/07/2026 15:30 WIBDokter Peringatkan 3 Kebiasaan yang Tingkatkan Risiko Kanker Payudara
-
NASIONAL23/07/2026 15:00 WIBResmi Jadi Kepala BGN, Sudaryono Kini Rangkap Tiga Jabatan
-
NASIONAL23/07/2026 16:00 WIBNanik S Deyang Bantah Isu Liar Mundur dari Kepala BGN, Sebut Dasco Paling Tahu
-
POLITIK24/07/2026 07:00 WIBPrabowo Tuding Wartawan Londo Ireng
-
NASIONAL23/07/2026 20:30 WIBAbraham Samad: Prabowo Harus Awasi Proses Hukum Dugaan Korupsi Febrie
-
NUSANTARA23/07/2026 16:30 WIBSiswi SMP Dibegal Saat Pulang Sekolah di Tangerang
-
NUSANTARA23/07/2026 13:30 WIBPasutri dan Seorang Perempuan Tewas Ditembak OPM di Yahukimo
-
POLITIK23/07/2026 17:43 WIBGatot Nurmantyo Ingatkan Prabowo Waspadai “Echo Chamber” di Istana

















