Connect with us

DUNIA

Tidak Diakui Negara Nuklir, Korut Takkan Berdamai dengan AS

Aktualitas.id -

Presiden AS Donald Trump (kanan) bertemu pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di zona demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea, di Panmunjom, Korea Selatan (30/6/2019). (REUTERS/Kevin Lamarque).

AKTUALITAS.ID – Perluasan blok agresif yang dipimpin AS di kawasan Asia-Pasifik dan aksi militer mereka yang dinilai melampaui batas telah menciptakan situasi tak biasa yang mengancam keamanan di Semenanjung Korea dan kawasan tersebut.

Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un menyatakan siap memulihkan hubungan dengan Amerika Serikat jika status nuklir negaranya dihormati dan permusuhan dihentikan.

Hal itu dikemukakannya saat menyaksikan parade militer untuk memperingati Kongres Kesembilan Partai Pekerja Korea (WPK), seperti dilaporkan kantor berita KCNA pada Kamis (26/2/2026).

“Jika AS menghormati posisi negara (nuklir) kami saat ini, seperti ditetapkan dalam Konstitusi DPRK dan menarik kebijakan permusuhannya terhadap DPRK, tak ada alasan bagi kami untuk tak dapat berhubungan baik dengan AS,” kata Kim, merujuk pada nama resmi Korut, Democratic People’s Republic of Korea.

Ia menambahkan selama lima tahun terakhir, WPK telah secara permanen mengukuhkan status negara itu sebagai negara bersenjata nuklir.

Hal tersebut menjadi sinyal kepada pihak-pihak yang dianggap lawan bahwa Korut tidak akan melepaskan senjata nuklirnya dalam keadaan apa pun hingga dunia benar-benar berubah.

Menurut Kim, peningkatan dan penguatan senjata nuklir menjadi inti strategi penangkalan dan pertempuran Korut.

“Kami memiliki rencana jangka panjang untuk menambah kekuatan nuklir nasional setiap tahun ke depan dan akan berkonsentrasi pada peningkatan jumlah senjata nuklir serta memperluas sarana dan ruang operasi nuklir,” katanya.

Ia menambahkan Korut akan memodernisasi kemampuan serangan dan sistem kendali senjata nuklir serta meningkatkan kesiapan tempur melalui latihan.

Kim juga menyebut prioritas pembekalan senjata nuklir bagi angkatan laut sebagai bagian dari penguatan militer.

“Kekuatan nuklir negara adalah jaminan dasar dan perangkat keamanan yang kuat untuk memastikan keamanan, kepentingan, dan hak pembangunan negara secara andal,” katanya.

(Ari Wibowo/goeh)

TRENDING