DUNIA
Trump Ngamuk, Amunisi AS Disebut Menipis
AKTUALITAS.ID – Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran mulai menghadirkan persoalan serius di balik ancaman keras Presiden Donald Trump.
Di tengah berulangnya ancaman Trump untuk melancarkan serangan besar terhadap Teheran, sejumlah laporan media AS justru mengungkap persoalan lain: stok amunisi Washington disebut terkuras setelah berbulan-bulan digunakan dalam konflik.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan besar. Apakah Washington masih memiliki cukup amunisi untuk melancarkan serangan besar seperti yang selama ini digembar-gemborkan Trump?
Laporan Washington Post menyebut persoalan persediaan amunisi diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan Trump untuk membatalkan rencana serangan besar terhadap Iran yang sebelumnya disebut-sebut sebagai serangan terbesar sejak Perang Dunia II.
Serangan tersebut sedianya dilakukan pada akhir pekan lalu.
Besarnya penggunaan persenjataan AS terlihat dari jumlah rudal yang telah dikerahkan dalam konflik.
Washington Post melaporkan bahwa pada bulan pertama perang, lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk dan lebih dari 1.000 rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) telah ditembakkan.
Selain itu, setidaknya 1.300 rudal balistik taktis juga disebut telah dikerahkan.
Angka tersebut menggambarkan betapa besar konsumsi amunisi dalam konflik melawan Iran.
Reuters pada Selasa (4/8) juga melaporkan Angkatan Darat AS telah menggunakan “hampir seluruh” persediaan rudal jarak jauh untuk menghadapi Iran.
Laporan lain dari CNN pada Rabu (5/8) bahkan menyebut hampir 80 persen rudal pencegat THAAD telah digunakan dalam konflik Timur Tengah tersebut.
Jika laporan-laporan tersebut akurat, persoalannya bukan lagi sekadar seberapa kuat serangan AS, tetapi seberapa lama Washington mampu mempertahankan intensitas tempurnya.
Persoalan stok senjata menjadi semakin menarik karena Trump terus melontarkan ancaman terhadap Teheran.
Presiden AS tersebut berulang kali mengancam akan melancarkan serangan besar atau bahkan serangan yang mematikan terhadap Iran.
Namun, serangan dengan skala seperti yang digambarkan Trump belum terwujud. Ketika serangan dilakukan, skalanya disebut masih terbatas dibandingkan ancaman yang sebelumnya disampaikan.
Situasi itu kemudian memunculkan spekulasi bahwa kemampuan persenjataan dapat menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang gerak Washington.
Namun, Trump membantah keras anggapan bahwa Amerika Serikat kekurangan amunisi.
Melalui unggahan di Truth Social pada Kamis (6/8), Trump berusaha mematahkan laporan mengenai menipisnya persediaan amunisi AS.
“AS memiliki sejumlah besar amunisi, terutama jenis-jenis tertentu. Selain itu, sejumlah besar amunisi sedang diproduksi dan dikirim ke AS sesuai kebutuhan. Perusahaan pertahanan sedang membangun pabrik dan fasilitas produksi terbesar dalam sejarah negara kita,” tulis Trump.
Trump menegaskan kemampuan industri pertahanan AS masih besar dan produksi senjata terus berjalan.
Namun, pernyataan tersebut justru disusul ancaman keras terhadap pihak yang membocorkan informasi mengenai kondisi persenjataan AS.
“Para ‘pembocor’ pernyataan pengkhianatan ini sedang diburu. Hukuman penjara jangka panjang akan diupayakan!” tulisnya.
Respons Trump membuat isu persediaan senjata semakin panas.
Di satu sisi, Trump menegaskan AS memiliki amunisi dalam jumlah besar dan kemampuan produksi yang terus berkembang.
Di sisi lain, pemerintahannya menghadapi laporan media mengenai penggunaan besar-besaran rudal selama perang dengan Iran.
Inilah yang kemudian menjadi sorotan: jika stok persenjataan AS benar-benar aman, mengapa laporan mengenai kondisi arsenal tersebut mendapat respons sekeras itu?
Perang melawan Iran kini bukan hanya soal siapa yang memiliki senjata paling banyak. Washington juga harus menghitung kemampuan mempertahankan operasi dalam jangka panjang, sementara kebutuhan amunisi terus meningkat.
Iran sendiri belum menunjukkan tanda menyerah dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat.
Bagi Trump, situasi ini menjadi ujian besar. Ancaman politik bisa dilontarkan setiap saat, tetapi perang tetap membutuhkan persenjataan, logistik, dan kemampuan mempertahankan operasi. (Mun)
-
NUSANTARA09/08/2026 07:00 WIBBromo Membara, Tiket Wisata Bisa Refund
-
DUNIA09/08/2026 09:00 WIBKorea Selatan Dipanggang Gelombang Panas 37 Derajat
-
NASIONAL09/08/2026 06:00 WIBDPR Buka Jalan Hukum bagi Orang Tua Korban MBG
-
NASIONAL09/08/2026 09:00 WIBEddy Soeparno: Sidang Tahunan MPR 2026 Tanpa Baju Adat
-
DUNIA09/08/2026 12:00 WIBKanada Deportasi WN India Terbanyak dalam Sejarah
-
OASE09/08/2026 05:00 WIBAlquran Jadi Obat Segala Penyakit
-
NASIONAL09/08/2026 10:00 WIBMenteri LH Janji Indonesia Bebas Plastik Setahun
-
NUSANTARA09/08/2026 11:00 WIBLava Gunug Merapi Meluncur 1,9 KM

















