Connect with us

NASIONAL

Pengamat RSI: Tim Pelapis Timnas Indonesia Jauh dari Standar

Aktualitas.id -

Pengamat Olahraga sekaligus pendiri Rakyat Sepakbola Indonesia (RSI), Frans Immanuel Saragih, foto: Ist

AKTUAITAS.ID – Kampanye Timnas Indonesia di ajang turnamen sepak bola Piala AFF 2026 harus berakhir dengan catatan paling kelam. Alih-alih membawa pulang trofi yang diidam-idamkan, skuad Garuda justru tersingkir secara memalukan di fase grup dan gagal melenggang ke babak semifinal.

Kegagalan tragis ini dipastikan setelah Indonesia takluk telak 0-3 di tangan Vietnam dan hanya mampu bermain imbang 1-1 kontra Singapura pada laga pemungkas grup. Sementara itu, Vietnam dan Singapura melenggang mulus ke semifinal.

Menanggapi hasil memalukan ini, Pengamat Olahraga sekaligus pendiri Rakyat Sepakbola Indonesia (RSI), Frans Immanuel Saragih, secara tegas menyatakan bahwa rapor merah ini sejatinya sudah bisa ditebak sejak awal.

BACA JUGA  Genoa Incar Jay Idzes Sebagai Pengganti Mattia Bani, Siap Tawarkan Kontrak Besar

“Kita bisa melihat dengan jelas bagaimana ketidakmampuan para pemain membuka celah di daerah penalti lawan. Memang benar kita menang besar melawan Kamboja dan menang juga melawan Timor Leste. Melawan Timor Leste aja kita sempat kesulitan. Hal tersebut sudah agak menimbulkan keraguan, hingga akhirnya dibantai Vietnam secara memalukan,” ungkap Frans saat dihubungi, Minggu (9/8/2026).

Menurut Frans, skuad yang diterjunkan di Piala AFF 2026 sejatinya adalah tim pelapis atau lapis kedua dari tim utama, lantaran banyak pemain inti yang absen.

Meskipun masih diisi beberapa nama dari tim utama seperti Rizky Ridho, Thom Haye, Ragnar Oratmangoen, Eliano Reijnders, dan Ivar Jenner, kehadiran mereka terbukti gagal mendongkrak performa di lapangan.

BACA JUGA  Pelatih Lebanon Puji Kekuatan Indonesia, Prediksi Lolos ke Piala Dunia 2026

“Secara kualitas jelas sangat kalah jauh dengan Timnas utama,” tegas Frans, menyindir performa tim yang dinilai terlalu banyak gaya di media sosial namun tumpul saat bertanding.

Kegagalan ini menuntut pelatih kepala John Herdman untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Frans mengingatkan agar standar kualitas antara tim pelapis dan tim utama tidak boleh terlampau jauh.

Ia juga mengecam pandangan keliru yang menganggap turnamen Piala AFF sebagai ajang sebelah mata.

“Apabila tidak berpikir bagaimana cara menjadi juara di setiap turnamen baik dengan tim utama maupun tim pelapis akan sulit bagi kita untuk menjadi penguasa sepak bola Asia Tenggara,” tutup Frans. (Mun)

TRENDING