Connect with us

DUNIA

Trump: Rencana Kanada Masuk UE Itu Konyol

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id -ai

AKTUALITAS.ID – Genderang perang dagang kembali ditabuh. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meradang setelah Uni Eropa (EU) secara terang-terangan berencana merekrut Kanada sebagai “anggota asosiasi” blok tersebut.

Bagi Trump, manuver Brussel adalah tindakan konyol sekaligus bentuk permusuhan terbuka terhadap Washington. Tak main-main, ancaman tarif selangit hingga pemutusan hubungan dagang langsung dilontarkan oleh sang Presiden AS.

“Saya rasa itu konyol. Jika mereka melakukan itu, jika saya menganggapnya sebagai tindakan yang bermusuhan, saya akan memberlakukan tarif yang sangat berat atau menghentikan perdagangan dengan Eropa untuk banyak jenis barang,” ancam Trump kepada wartawan, Rabu (16/9/2926).

Meski begitu, Trump memberi sedikit kelonggaran jika niat Eropa terbukti baik. Namun, jika sebaliknya, ia memastikan tarif mencekik akan segera berlaku.

BACA JUGA  Gertak Iran, Donald Trump Kerahkan Kekuatan Tempur Laut dan Jet F-15 ke Timur Tengah

Kemarahan Trump dipicu oleh pernyataan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, sehari sebelum Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, berpidato di Parlemen Eropa. Carney mencetak sejarah sebagai kepala pemerintahan non-Eropa pertama yang diundang ke pidato tahunan “State of the European Union”.

Langkah berani ini bukan tanpa alasan. Kanada dan Uni Eropa saat ini tengah bermanuver untuk mengurangi ketergantungan mereka pada Amerika Serikat yang dinilai semakin agresif di bawah kepemimpinan Trump. Kanada sendiri saat ini makin terseret ke dalam pusaran perang dagang dengan Negeri Paman Sam.

“Saya ingin bekerja sama dengan Anda untuk membuka pintu bagi Kanada menjadi anggota asosiasi pertama Uni Eropa,” tegas von der Leyen di hadapan Carney, yang langsung disambut standing ovation dari seluruh anggota parlemen di Strasbourg.

BACA JUGA  Trump Sesumbar Akan Kuasai Minyak Iran & Buka Selat Hormuz

Di bawah aturan perjanjian Uni Eropa saat ini, status “anggota asosiasi” sebenarnya belum ada. Gagasan ini pertama kali dilempar oleh Kanselir Jerman, Friedrich Merz, untuk Ukraina. Namun, Presiden Volodymyr Zelensky merespons dingin karena ia menuntut keanggotaan penuh, bukan sekadar perwakilan tanpa hak suara penuh.

Kini, tawaran tersebut beralih ke Kanada. Hubungan keduanya memang sudah sangat mesra. Sejak 2016, perjanjian perdagangan bebas CETA telah menggenjot perdagangan barang dan jasa lebih dari 80 persen. Bahkan tahun ini, Kanada menjadi negara non-Uni Eropa pertama yang bergabung dalam program pinjaman pertahanan unggulan Eropa.

Dengan kedekatan yang makin intim ini, ancaman Donald Trump bisa jadi babak baru dalam pergeseran peta kekuatan geopolitik dan ekonomi global. (Mun)

BACA JUGA  Lebanon Tidak Termasuk Kesepakatan Gencatan Senjata

TRENDING