Connect with us

DUNIA

Nyamar Jadi Polisi, 3 Pria Gilir India Remaja 17 Tahun di Taman

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID – Predikat India sebagai negara darurat kekerasan seksual kembali terbukti. Sebuah insiden pemerkosaan brutal yang mengorbankan gadis 17 tahun di Taman Astha Kunj, Delhi tenggara, sukses memicu kemarahan publik. Ironisnya, para pelaku menggunakan modus licik: menyamar sebagai anggota kepolisian.

Tragedi mengerikan ini terjadi pada Senin (21/9/2026) malam. Korban yang saat itu sedang duduk bersama teman laki-lakinya tiba-tiba didatangi tiga pria. Bukannya menegur layaknya warga biasa, ketiga iblis ini justru unjuk gigi berlagak seperti aparat penegak hukum.

Pejabat Kepolisian Delhi, Vijay Kumar, membeberkan fakta mengerikan. Para pelaku sengaja memborbardir korban dengan istilah-istilah hukum untuk menebar teror mental.

“Mereka mengintimidasi korban dan temannya, mengatakan bahwa mereka telah melakukan kesalahan fatal dan akan menghadapi tuntutan hukum,” ungkap Kumar. Dalam kondisi panik, korban perempuan dipisahkan secara paksa dan diseret ke tempat sepi, lalu dilecehkan secara brutal.

Kepolisian langsung bergerak cepat meringkus ketiga predator tersebut: Asif (31), Hemant (31), dan Mukesh (24). Penangkapan Asif berlangsung dramatis, ia terpaksa dihadiahi timah panas di bagian kaki oleh petugas di dekat kampus bergengsi, Lady Shri Ram College for Women.

Fakta mencengangkan terungkap dari latar belakang pelaku. Hemant diketahui berprofesi sebagai pengacara, sementara adiknya, Mukesh, adalah mahasiswa S1 Sains. Meski ayah mereka, JR Dhankar, bersikeras anak-anaknya dijemput paksa dan sedang berada di rumah saat kejadian, polisi tetap menetapkan mereka sebagai tersangka.

Kasus ini langsung menyulut api perlawanan. Ribuan mahasiswa dari Lady Shri Ram College, Gargi College, dan Miranda House turun ke jalan menggelar pawai solidaritas. Ketakutan yang merajalela bahkan memaksa pihak kampus memindahkan seluruh kegiatan perkuliahan menjadi online.

Namun, para mahasiswa menolak tunduk pada ketakutan. Mereka mengecam keras respons pemerintah dan aparat yang dinilai selalu reaktif, bukan preventif.

“Jujur saja, kami muak. Kami butuh perubahan struktural permanen seperti patroli aktif dan audit keamanan. Bukan sekadar penguncian sementara yang ujung-ujungnya malah membebani mahasiswa,” geram seorang mahasiswi yang enggan disebut namanya.

Presiden Serikat Mahasiswa, Anusha Garg, juga melontarkan kritik tajam. “Keselamatan perempuan tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan ‘hati-hati’. Fokuslah pada ruang publik yang aman dan kehadiran polisi yang nyata!” tegasnya.

Di tengah desakan mundur dan protes keras, otoritas perencana kota (DDA) akhirnya kalang kabut mengeluarkan aturan baru. Solusi mereka? Membatasi akses masuk taman setelah matahari terbenam, menambah CCTV, dan memasang lampu. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version