DUNIA
AI Diduga Bobol Bank Korea Selatan
AKTUALITAS.ID – Sistem pertahanan siber Korea Selatan luluh lantak. Tujuh institusi keuangan raksasa di Negeri Ginseng—termasuk Shinhan Bank, KB Kookmin Bank, dan Hana Bank—bertekuk lutut menghadapi serangan siber canggih yang digerakkan oleh Kecerdasan Buatan (AI).
Tak hanya bank, peretas juga sukses membobol sistem dua gereja terbesar dan perusahaan listrik negara (Korea Electric Power Corp). Hasilnya? Data sensitif milik 68.000 nasabah bocor dan kini berada di tangan penjahat siber.
Perdana Menteri Korea Selatan, Han Seong-sook, langsung membunyikan alarm tanda bahaya. Ia mendesak evaluasi darurat berskala nasional.
“Ini bukan peretasan biasa. Pelaku memanfaatkan AI untuk melipatgandakan daya hancur serangan phishing. Jika tidak segera dibendung, krisis ini akan merambat dari sektor perbankan ke layanan publik hingga industri,” tegas PM Han, Selasa (06/10).
Ironisnya, para peretas tidak menyerang pintu utama. Profesor Hyobin Lee dari Sogang University membeberkan fakta memalukan: bank-bank raksasa ini memang menghabiskan triliunan untuk mengamankan mobile dan internet banking, namun membiarkan pintu belakang mereka tak terkunci.
Peretas memanfaatkan sistem yang lemah pengawasan, seperti portal agen pinjaman eksternal dan aplikasi internal karyawan. Melalui celah ini, mereka merampok data super sensitif mulai dari nama, nomor telepon, pendapatan tahunan, batas pinjaman, hingga sebagian nomor identitas nasional (KTP).
“Informasi ini adalah ‘senjata mematikan’ untuk penipuan finansial. Peretas kini tahu identitas Anda, gaji Anda, dan riwayat utang Anda. Mereka bisa menyamar sebagai petugas bank yang sangat meyakinkan. Begitu uang ditransfer, peluang uang itu kembali nyaris nol,” peringat analis Brave New Coin, Aditya Das.
Siapa dalang di balik serangan ini? Laporan awal dari raksasa keamanan siber AS, CrowdStrike, menunjuk hidung peretas asal China. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya jejak ARTEX, sebuah alat peretas otomatis berbasis open-source buatan developer Tiongkok.
Namun, Otoritas Jasa Keuangan Korea Selatan (FSS) menemukan fakta yang lebih rumit. Serangan ini menggunakan 28 alamat IP siluman yang tersebar di 13 negara, termasuk AS, Jepang, dan Jerman. Para ahli menilai ini adalah taktik peretas untuk mencuci jejak digital mereka.
Insiden di Korea Selatan menjadi bukti nyata bahwa AI kini telah menjelma menjadi senjata makan tuan. Jika dulu peretas butuh waktu berbulan-bulan dan keahlian tingkat dewa untuk membobol bank, AI generatif mengubah segalanya.
AI kini bisa menulis kode malware, mencari celah keamanan, dan mengeksekusi serangan secara otomatis dalam hitungan detik.
“Hambatan teknis kejahatan siber kini sangat rendah. Skala dan kecepatan serangan meningkat tajam,” ujar Prof. Lee. Ia memperingatkan bahwa tragedi ini baru permulaan. “Target selanjutnya bukan cuma bank. Rumah sakit, PLN, pemerintah, hingga jaringan telekomunikasi kini berada di bawah bayang-bayang teror siber AI.” (Mun)
-
JABODETABEK10/10/2026 05:30 WIBBMKG Prediksi Jakarta Diguyur Hujan Sore hingga Mal
-
POLITIK10/10/2026 13:00 WIBDenny Indrayana Tantang Prabowo Buka Suara soal Putusan MK dan Ijazah Gibran
-
POLITIK10/10/2026 11:00 WIBBobby: Sekalian Saja Permasalahkan Sarjananya Gibran
-
OASE10/10/2026 05:00 WIBPasir Hitam di Al-Qur’an Ada di Ayat Ini
-
NUSANTARA10/10/2026 06:30 WIBBanjir 1 Meter Terjang Jayapura
-
POLITIK10/10/2026 07:00 WIBPDIP Dukung Pansus Ijazah Gibran
-
POLITIK10/10/2026 06:00 WIBDoli: 58 Kursi DPR Berpotensi Diisi Caleg Tak Terpilih
-
NASIONAL10/10/2026 10:00 WIBKepala Intel Gartap Jakarta Ditahan

















