Connect with us

DUNIA

Tanpa Bukti! Trump dan Netanyahu Sudutkan Imigran Islam di Rusuh Prancis

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Di tengah gejolak demonstrasi besar yang melanda Prancis, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru melontarkan pernyataan provokatif. Kedua pemimpin sayap kanan ini secara kompak menyalahkan kelompok imigran Muslim sebagai dalang kerusuhan, sekaligus menyudutkan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai terlalu lembek.

Donald Trump secara sepihak mengklaim bahwa Paris akan segera menjadi “Kota Muslim” dan menyebut Macron melakukan kesalahan fatal dengan menerima imigran. “Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih negara yang dulu pernah besar ini!” seru Trump tanpa menyertakan satu pun bukti yang mendasari klaimnya.

Narasi serupa digaungkan oleh Netanyahu. Melalui wawancara dengan media iNews24 pada Selasa (20/10), ia menuding para pemimpin Prancis telah menyerah pada “invasi Islam ekstremis”. Netanyahu mendesak Prancis untuk melawan balik dan membuang kebijakan akomodasi terhadap kelompok yang ia sebut ekstremis, meskipun fakta di lapangan menunjukkan massa demonstran di Paris dan kota-kota besar lainnya berasal dari latar belakang masyarakat yang sangat beragam.

Sikap agresif dan retorika tanpa bukti dari kedua pemimpin ini tidak lepas dari tekanan politik domestik di negara masing-masing. Baik Trump maupun Netanyahu saat ini tengah mencari simpati publik menjelang pemilihan umum krusial yang mempertaruhkan masa depan kekuasaan mereka.

Di Amerika Serikat, popularitas Trump terjun bebas di angka persetujuan 31% menjelang Pemilu Sela (midterm elections) pada 3 November mendatang. Posisi Partai Republik kini terancam kehilangan kendali atas Kongres AS dalam memperebutkan kursi DPR, Senat, dan Gubernur.

Sementara itu, Netanyahu tengah menghadapi ujian berat di Israel menjelang pemilu 27 Oktober. Pemilihan ini menjadi referendum langsung atas kepemimpinannya sejak agresi brutal ke Jalur Gaza yang telah menewaskan lebih dari 75 ribu warga sipil. Berbagai survei terbaru memprediksi Partai Likud pimpinan Netanyahu akan kehilangan banyak suara, dengan proyeksi hanya meraup 20 hingga 22 kursi akibat basis pendukungnya yang beralih ke kelompok oposisi atau sayap kanan radikal.

Alih-alih menawarkan solusi diplomatis bagi sekutunya, manuver Trump dan Netanyahu menyalahkan kelompok minoritas di Prancis dinilai sebagai taktik usang untuk mengalihkan perhatian dari rapor merah kinerja mereka di dalam negeri. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version