Connect with us

DUNIA

Biaya Hidup Jadi Pemicu Gelombang Demo di Eropa

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Gelombang kemarahan publik tidak hanya membumihanguskan jalanan Prancis. Himpitan biaya hidup, krisis perumahan, minimnya anggaran pendidikan, hingga muak terhadap kebijakan pemerintah memicu rentetan demonstrasi dan mobilisasi massa di delapan negara Eropa lainnya sepanjang 17-18 Oktober 2026.

Prancis masih menjadi episentrum kerusuhan dengan lebih dari 550.000 hingga 800.000 orang turun ke jalan memprotes mahalnya biaya hidup dan buruknya fasilitas sekolah. Demonstrasi berubah menjadi arena pertarungan; 1.200 orang ditangkap, 150 polisi terluka, pertokoan dijarah, hingga Balai Kota Limoges yang berusia 140 tahun dibakar massa. Namun, “penyakit” ketidakpuasan ini terbukti menular dengan cepat melintasi perbatasan negara.

Berikut peta sebaran kerusuhan dan mobilisasi massa yang sedang mengoyak Eropa:

1. Italia: Bentrok Darah dan Api di Milan
Mahasiswa Italia turun ke jalan menolak pembatasan siswa asing, minimnya anggaran pendidikan, dan tingginya pengeluaran militer pemerintah sayap kanan. Aksi No Meloni Day di Milan berujung anarkis. Demonstran bertopeng melempar batu dan membakar barikade di pusat kota, yang langsung dibalas tembakan gas air mata dan meriam air oleh aparat. Sebanyak 50 demonstran ditahan.

2. Belgia: Gas Air Mata Pecah di Brussel
Penolakan terhadap pemangkasan anggaran pendidikan dan mahalnya biaya kuliah membuat mahasiswa turun ke jalan. Di Brussel dan Liège, massa yang beringas melempari petugas dan melakukan pembakaran, memaksa kepolisian menyapu mundur demonstran menggunakan meriam air dan gas air mata.

3. Spanyol: Tragedi Pengusiran Picu Kemarahan Publik
Krisis perumahan dan meroketnya harga sewa memicu gelombang protes. Kemarahan meledak usai Maricarmen Abascal, nenek 87 tahun di Madrid, diusir dari rumahnya karena tak mampu bayar sewa dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit. Tragedi ini menjadi simbol perlawanan warga Spanyol terhadap spekulasi properti yang mencekik rakyat kecil.

4. Portugal: Bentrok Brutal Isu Harga Rumah
Puluhan ribu warga melumpuhkan Lisbon menuntut solusi atas harga rumah yang meroket lebih dari dua kali lipat sejak 2017. Di Porto, aksi damai berujung pembubaran paksa oleh polisi pada dini hari, memakan 37 korban luka termasuk penyandang disabilitas.

5. Albania: Tuntut PM Edi Rama Mundur
Ribuan pemuda dan mahasiswa mengepung Kementerian Pendidikan di Tirana. Mereka bukan sekadar menuntut perbaikan ekonomi, tetapi mendesak Perdana Menteri Edi Rama mundur akibat skandal korupsi dan pengangguran tinggi. Hujan batu dari demonstran dibalas granat kejut dan gas air mata oleh aparat dalam aksi yang telah berlangsung lima hari berturut-turut.

6. Jerman: Blokade Menolak Wajib Militer
Di Berlin, mahasiswa memblokade pintu masuk sekolah sebagai bentuk protes terhadap persiapan wajib militer. Mereka menuntut pemerintah menghentikan fokus pada militerisasi dan mengembalikan uang negara untuk investasi di sektor pendidikan.

7. Austria: Melawan Pemangkasan Anggaran Kampus
Mobilisasi mahasiswa mulai memanas di Austria. Mahasiswa bergerak menolak pemangkasan anggaran universitas yang dituding akan menghancurkan kualitas pembelajaran dan fasilitas akademik.

8. Yunani: Ancaman Mogok Kuliah
Meroketnya biaya kos dan langkanya hunian membuat mahasiswa Yunani menjerit. Mereka memprotes keras kebijakan alokasi anggaran negara yang lebih memprioritaskan belanja militer ketimbang pendidikan, diiringi seruan mogok kuliah secara massal.

Eropa kini berada dalam bayang-bayang krisis sosial berskala besar. Meski tanpa koordinasi terpusat, kesamaan nasib menghadapi krisis ekonomi dan hunian membuat aksi sporadis ini menyerupai gelombang Arab Spring versi Eropa yang siap meledak lebih besar. (Mun)

TRENDING

Exit mobile version