Connect with us

DUNIA

Trump Desak Zelensky Segera Bikin Kesepakatan

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Sikap Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump kian bermanuver tajam dan membuat posisi Ukraina semakin terpojok. Trump secara terang-terangan mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk segera menyerah pada keadaan dan membuat kesepakatan damai dengan Rusia.

“Kami ingin Zelensky membuat kesepakatan. Dia seharusnya bisa membuat kesepakatan dua tahun lalu. Dia harus memiliki keinginan untuk itu, karena menurut saya rakyatnya tidak akan tahan lagi dengan situasi ini,” tekan Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Rabu (21/10/2026).

Pernyataan ini semakin mempertegas keretakan hubungan Washington dan Kyiv sejak Trump kembali menjabat. Ketegangan sebelumnya sempat meledak saat Trump mencabut sebagian sanksi Rusia demi kesepakatan pasokan diesel, sekaligus melontarkan kritik keras yang melabeli Zelensky sebagai “penghasut perang” akibat serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia.

BACA JUGA  Rusia Lepaskan Ratusan Drone dan Puluhan Rudal ke Ukraina

Di sisi lain, keintiman Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin justru semakin terlihat. Trump mengaku telah melobi Putin secara langsung untuk membebaskan Stephen Hubbard, warga negara AS yang ditawan Moskow di Ukraina.

“Saya telah meminta (Putin) untuk membebaskannya. Ikuti saja perkembangannya, karena saya melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain,” sesumbar Trump yang mengisyaratkan adanya kesepakatan rahasia yang segera terwujud.

Menghadapi pergeseran sikap AS yang kembali condong ke Moskow, Zelensky mencoba meredakan ketegangan dengan menemui utusan Trump, Steve Witkoff, di Oslo, Selasa lalu. Meski Zelensky menyambut baik dilanjutkannya kembali pertukaran intelijen AS soal ancaman Rusia, ia memberikan peringatan keras bahwa Kyiv wajib dilibatkan dalam setiap perundingan yang menyangkut nasib negaranya.

BACA JUGA  Serangan Mendadak Ukraina Bikin Jet Pengebom Rusia Babak Belur

Manuver Trump yang terus menyalahkan Kyiv atas mandeknya perdamaian, ditambah retorika hangatnya terhadap Putin, kini memicu kecemasan tingkat tinggi di Ukraina terkait masa depan dukungan sekutu terbesarnya tersebut. (Mun)

TRENDING