EKBIS
Rupiah Anjlok ke Rp17.967 per Dolar
AKTUALITAS.ID – Tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Alih-alih bangkit, mata uang Garuda kembali menunjukkan tanda-tanda pelemahan dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Kamis (25/6/2026) pagi, rupiah kembali bergerak di zona merah. Data pasar spot menunjukkan kurs rupiah berada di kisaran Rp17.957 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.952 per dolar AS.
Sementara itu, data Bloomberg mencatat rupiah bahkan sempat dibuka melemah ke level Rp17.963 per dolar AS. Angka tersebut membuat pasar semakin waspada karena jarak menuju level Rp18.000 kini semakin tipis.
Pelemahan rupiah bukan terjadi dalam satu hari. Tren negatif ini telah berlangsung dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, menandakan tekanan terhadap mata uang domestik masih sangat kuat.
Analis menilai meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat menjadi salah satu faktor utama yang membuat dolar AS kembali diburu investor global. Ketika dolar menguat, mata uang negara berkembang seperti rupiah biasanya menjadi korban pertama.
“Pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed yang lebih agresif. Kondisi ini membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat,” kata analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong.
Di kawasan Asia, rupiah memang tidak sendirian. Won Korea Selatan mengalami pelemahan paling dalam sebesar 0,33 persen, sementara dolar Taiwan turun 0,27 persen. Namun tekanan yang terus menimpa rupiah tetap menjadi perhatian karena terjadi saat sejumlah mata uang Asia lain justru mampu menguat terhadap dolar AS.
Ringgit Malaysia tampil sebagai mata uang dengan penguatan terbesar di Asia pagi ini. Disusul peso Filipina, yen Jepang, baht Thailand, dolar Singapura hingga yuan China yang berhasil bergerak positif.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa rupiah masih menghadapi tantangan berat di tengah perubahan arah sentimen global dan dominasi dolar AS di pasar keuangan internasional.
Jika tekanan terus berlanjut dan level Rp18.000 benar-benar ditembus, pasar khawatir dampaknya bisa merembet ke berbagai sektor, mulai dari kenaikan biaya impor, tekanan terhadap dunia usaha, hingga meningkatnya beban pembayaran utang berdenominasi dolar AS.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu langkah lanjutan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Untuk saat ini, satu fakta sulit dibantah: rupiah masih berada dalam pusaran tekanan dan level Rp18.000 per dolar AS kini bukan lagi sekadar ancaman, melainkan bayang-bayang yang semakin dekat. (Firman/Mun)
-
NUSANTARA15/08/2026 18:30 WIBGempa M 6,4 Simalungun Bikin Warga Medan Hingga Aceh Berhamburan Keluar Rumah
-
NASIONAL15/08/2026 19:00 WIBKemhan Beri Restu Logonya Dipasang di Kapal Haji Isam
-
NASIONAL15/08/2026 17:00 WIBEddy Soeparno Desak MBG Dibersihkan dari Masalah
-
NASIONAL15/08/2026 16:00 WIBDasco Pastikan Perpres Ojol Hampir Final
-
DUNIA15/08/2026 18:00 WIBTrump Bantah Awak USS Lincoln Stres
-
RIAU15/08/2026 21:15 WIBAbrasi Ancam 1.700 Hektare Kebun Kelapa Masyarakat, Kuala Selat Jadi Titik Pamungkas Ekspedisi Merah Putih
-
DUNIA15/08/2026 21:00 WIBIran: Hormuz Tak Bisa Direbut Lewat Cuitan
-
NASIONAL15/08/2026 20:00 WIBHeboh Diiming-imingi Rp 16 Juta, Gaji Manajer Kopdes Ternyata Jauh dari Janji