Connect with us

OASE

Surat Al-Fiil: Mengungkap Kisah Pasukan Gajah dan Azab Allah SWT

Aktualitas.id -

Surat Al-Fiil, Foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Surat Al-Fiil merupakan surat ke-105 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari lima ayat dan tergolong surat Makkiyah. Nama ‘Al-Fiil’ sendiri berarti “gajah”, yang diambil dari ayat pertama surat tersebut. Penamaan ini bukan tanpa sebab, melainkan merujuk pada peristiwa besar sejarah Islam: serangan pasukan bergajah yang hendak menghancurkan Ka’bah.

Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah penting karena terjadi pada tahun 570 Masehi, yang bertepatan dengan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bahkan, beberapa riwayat menyebutkan kejadian ini berlangsung tak lebih dari dua bulan sebelum kelahiran Rasulullah.

Lantas, bagaimana kronologi lengkap peristiwa tersebut menurut para ahli tafsir?

Ambisi Abrahah dan Katedral Sa’an

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah Jilid 15 menjelaskan bahwa tema utama Surat Al-Fiil adalah uraian kegagalan upaya perluasan wilayah oleh Abrahah al-Asyram al-Habasyi. Abrahah mengerahkan pasukan bergajah dari Yaman menuju Mekkah dengan tujuan utama menghancurkan Ka’bah.

Berdasarkan Tafsir Tahlili Kementerian Agama (Kemenag) Jilid 10 dan pendapat sejarawan Arab, konflik bermula dari perebutan kekuasaan di Yaman. Setelah melalui pertarungan sengit antara dua pangeran Abisinia, Aryat dan Abrahah, tampuk kekuasaan di Yaman akhirnya jatuh ke tangan Abrahah sebagai wakil raja.

Untuk mengambil hati raja dan mengalihkan perhatian masyarakat Arab yang rutin berziarah ke Ka’bah, Abrahah membangun sebuah katedral megah bernama Sa’an di Yaman. Gereja ini dibangun dengan material mewah, mulai dari pualam istana Ratu Saba’, ornamen emas perak, hingga mimbar gading.

Namun, harapan Abrahah agar bangsa Arab berpaling dari Ka’bah ke gereja buatannya tidak terwujud. Didorong ambisi dan fanatisme, ia memutuskan bahwa satu-satunya cara adalah dengan menghancurkan Ka’bah di Mekkah.

Dialog Abdul Muthalib: “Ka’bah Punya Pemilik yang Menjaganya”

Abrahah memimpin pasukan besar yang disertai gajah—hewan yang saat itu sangat asing bagi bangsa Arab. Sesampainya di wilayah Hijaz, pasukan Abrahah merampas harta kaum Quraisy, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Muthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad SAW.

Melihat kekuatan besar lawan, kaum Quraisy menyadari mereka tak mampu melawan secara fisik. Namun, terjadi momen menarik saat Abdul Muthalib mendatangi markas Abrahah. Terkesan dengan perawakan Abdul Muthalib yang tegap dan berwibawa, Abrahah menyambutnya dengan hormat.

Namun, rasa hormat itu luntur ketika Abdul Muthalib hanya meminta 200 untanya dikembalikan, tanpa menyinggung soal nasib Ka’bah yang akan dihancurkan. Abrahah merasa heran, mengapa pemimpin Mekkah lebih peduli pada harta daripada rumah suci agamanya.

Jawaban Abdul Muthalib sangat legendaris dan mencerminkan tawakal tingkat tinggi: “Saya adalah pemilik unta, (maka saya mengurus unta saya). Adapun rumah suci itu (Ka’bah) ada pemilik-Nya (Allah SWT), dan Dialah yang akan melindunginya.”

Setelah untanya dikembalikan, Abdul Muthalib memerintahkan penduduk Mekkah mengungsi ke bukit-bukit untuk menghindari korban jiwa, seraya berdoa memohon perlindungan Allah bagi kota suci tersebut.

Serangan Burung Ababil dan Kebinasaan Pasukan Gajah

Saat kota Mekkah sunyi dan pasukan Abrahah bersiap meruntuhkan Ka’bah, rencana mereka gagal total. Allah SWT mengirimkan pertolongan yang diabadikan dalam Al-Qur’an.

Bala tentara Abrahah secara tiba-tiba diserang oleh kawanan burung (Ababil) yang menjatuhkan batu-batu panas. Serangan ini membawa wabah mematikan berupa bisul dan luka melepuh pada kulit, yang oleh analisis modern diduga sebagai jenis penyakit campak ganas atau cacar yang sangat virulen.

Kondisi pasukan menjadi kacau balau. Banyak yang binasa di tempat, sementara sisanya, termasuk Abrahah, mencoba melarikan diri kembali ke Yaman. Namun, azab tersebut terus mengejar. Abrahah sendiri dikabarkan mati dalam perjalanan pulang dengan kondisi tubuh yang rusak akibat wabah tersebut.

Peristiwa ini menjadi bukti kekuasaan Allah SWT dalam menjaga rumah-Nya, sekaligus menjadi latar belakang sejarah yang mengiringi kelahiran Nabi Muhammad SAW di Tahun Gajah. (Mun)

Continue Reading

TRENDING