Connect with us

OASE

Haji Wada: Detik-Detik Perpisahan Nabi Muhammad SAW

Aktualitas.id -

Ilustrasi puncak pelaksanaan ibadah haji, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Langit Arafah menjadi saksi momen paling menggetarkan dalam sejarah Islam. Di hadapan lebih dari 100 ribu umat Muslim, Nabi Muhammad SAW menyampaikan pesan terakhir yang mengguncang hati manusia lintas zaman. Haji Wada’ bukan sekadar ibadah haji terakhir Rasulullah, tetapi juga pertanda bahwa detik-detik perpisahan Sang Nabi dengan umatnya sudah semakin dekat.

Peristiwa Haji Wada tercatat sebagai salah satu momen paling monumental dalam sejarah peradaban Islam. Haji ini berlangsung pada tahun 10 Hijriah atau 632 Masehi dan menjadi ibadah haji pertama sekaligus terakhir yang dilaksanakan Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah.

Kala itu, jutaan hati umat Islam bergetar. Setelah sembilan tahun menetap di Madinah tanpa menunaikan ibadah haji, Rasulullah akhirnya mengumumkan keberangkatan menuju Baitullah. Kabar itu langsung menyebar ke berbagai penjuru Jazirah Arab.

Ribuan kaum Muslim berbondong-bondong datang ke Madinah demi satu tujuan: mengikuti langsung tata cara ibadah haji yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Lautan Manusia Mengiringi Rasulullah

Dalam berbagai riwayat disebutkan, jumlah jamaah yang mengikuti Haji Wada mencapai sekitar 90 ribu hingga 114 ribu orang. Mereka datang dari berbagai wilayah Arab untuk menyertai perjalanan suci Rasulullah menuju Mekkah.

Pada 25 Dzulqa’dah 10 Hijriah, Rasulullah memulai perjalanan besar itu. Setibanya di Dzulhulaifah, kaum Muslim mengganti pakaian mereka dengan kain ihram sederhana—simbol kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT.

Dari tempat itulah gema talbiyah mulai mengguncang padang pasir:

“Labbaik Allahumma labbaik, labbaik laa syarika laka labbaik…”

Suara itu menggema dari ribuan jamaah yang larut dalam kekhusyukan mengikuti Rasulullah SAW.

Khutbah Terakhir yang Menggetarkan Dunia

Puncak paling bersejarah terjadi saat wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah. Di atas untanya, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah terakhir yang kini dikenal sebagai Khutbah Wada’.

Isi khutbah tersebut menjadi fondasi penting ajaran Islam tentang kemanusiaan, persaudaraan, dan keadilan.

Rasulullah bersabda:

“Setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya…”

Beliau menegaskan larangan menumpahkan darah sesama Muslim, merampas harta orang lain, hingga menghapus diskriminasi antarmanusia.

Pesan itu menjadi seruan universal tentang persamaan derajat manusia tanpa memandang suku, ras, ataupun status sosial.

Turunnya Ayat Penyempurna Islam

Di momen Haji Wada pula, Allah SWT menurunkan Surah Al-Maidah ayat 3 yang dikenal sebagai ayat penyempurna agama:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا

Ayat tersebut menandai bahwa risalah Islam telah sempurna. Banyak sahabat mulai merasakan isyarat bahwa tugas Rasulullah di dunia hampir selesai.

Pertanda Perpisahan Rasulullah

Haji Wada kemudian dikenang sebagai Haji Perpisahan karena hanya berselang sekitar tiga bulan setelah peristiwa itu, Rasulullah SAW wafat pada usia 63 tahun.

Kepergian beliau mengguncang Madinah. Umar bin Khattab bahkan sempat tak percaya Nabi telah wafat. Hingga akhirnya Abu Bakar Ash-Shiddiq berdiri menenangkan umat dengan pidato bersejarah:

“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati.”

Ucapan itu menjadi penguat bagi umat Islam untuk tetap teguh menjaga iman dan ajaran Rasulullah SAW.

Warisan Abadi Haji Wada

Haji Wada bukan hanya catatan sejarah, melainkan warisan spiritual terbesar umat Islam. Dari Padang Arafah, Rasulullah meninggalkan pesan tentang persaudaraan, keadilan, kemuliaan akhlak, dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Hingga kini, jutaan umat Muslim yang menunaikan ibadah haji terus mengenang perjalanan suci terakhir Sang Nabi sebagai teladan sepanjang zaman. (Mun)

TRENDING