OASE
Jangan Sampai Menyesal di Akhirat: Peringatan Keras Rasulullah untuk Para Pemimpin
AKTUALITAS.ID – Di tengah dinamika kepemimpinan yang kerap diwarnai berbagai isu, nasihat-nasihat Rasulullah SAW mengenai amanah dan tanggung jawab seorang pemimpin. Kumpulan hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat terkemuka seperti Abu Dzarrin dan Abu Hurairah RA memberikan panduan moral yang mendalam bagi siapa saja yang mengemban tampuk kekuasaan.
Salah satu hadis yang patut direnungkan adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Dzarrin, “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah suatu amanah dan di Hari Kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan kecuali mereka yang mengambilnya dengan cara yang baik, serta dapat memenuhi kewajibannya dengan baik sebagai seorang pemimpin.” Hadis ini secara tegas mengingatkan bahwa kepemimpinan bukanlah sekadar привилегия, melainkan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Lebih lanjut, Rasulullah SAW melalui riwayat Abu Hurairah RA mengklasifikasikan tiga golongan pertama yang masuk surga dan neraka. Sungguh mengejutkan, salah satu golongan pertama yang akan merasakan pedihnya neraka adalah “pemimpin yang menipu.” Hadis ini menjadi peringatan keras bagi para pemimpin untuk menjauhi segala bentuk kecurangan dan pengkhianatan terhadap amanah yang diberikan.
Pesan senada juga disampaikan Rasulullah SAW kepada Ka’ab bin Ujrah, “Semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang yang jahat.” Beliau kemudian menjelaskan pemimpin yang dimaksud adalah mereka yang tidak mengikuti petunjuk dan sunnahnya, serta mengharapkan pembenaran atas dustanya dan bantuan atas kezalimannya. Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa orang-orang seperti itu bukanlah bagian dari umatnya.
Menyikapi hal ini, para ulama dan cendekiawan Muslim menekankan pentingnya bagi seorang pemimpin untuk menyadari betapa beratnya tanggung jawab yang diemban. Analogi “bismillah” atau bahkan “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” saat menerima amanah kepemimpinan menggambarkan kesadaran akan ujian dan pertanggungjawaban yang menyertainya.
Rasulullah SAW juga mengajarkan batasan ketaatan seorang Muslim kepada pemimpinnya. Ketaatan hanya berlaku selama pemimpin tersebut tidak memerintahkan kemaksiatan kepada Allah SWT. “Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf,” sabda beliau. Hal ini membuka ruang bagi rakyat dan ulama untuk memberikan nasihat dan kritik yang membangun kepada pemimpin, tentunya dengan cara yang baik dan sopan, tanpa tendensi untuk mempermalukan.
Dengan merenungkan nasihat-nasihat luhur Rasulullah SAW ini, diharapkan para pemimpin dapat menjalankan amanahnya dengan sebaik-baiknya, menjauhi segala bentuk kezaliman dan penipuan, serta senantiasa berpegang teguh pada kebenaran. Sebab, kepemimpinan yang amanah akan membawa keberkahan bagi pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya, serta menjadi bekal kebahagiaan di dunia dan akhirat. (Mun/Yan Kusuma)
-
JABODETABEK10/06/2026 23:00 WIBMantan Karyawan Gugat PT PetroChina International Jabung ke PHI
-
JABODETABEK10/06/2026 20:30 WIBTarif Transjabodetabek Bakal Naik, Pramono Anung: Pasti Tetap Disubsidi Pemprov DKI
-
NASIONAL10/06/2026 20:00 WIBDPR Minta Rekrutmen Manajer Koperasi Merah Putih Dilakukan Ketat
-
NASIONAL10/06/2026 20:47 WIBKLH Gelar Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dan Envirotech di JICC
-
JABODETABEK11/06/2026 14:30 WIBKorban Dugaan Pemerasan Rp350 Juta oleh Oknum Pengacara Tempuh Jalur Hukum
-
POLITIK10/06/2026 21:00 WIBDua Faktor Ini Jadi Hambatan Gibran untuk Cari Pasangan Politik di Pilpres 2029
-
NASIONAL10/06/2026 21:28 WIBDua Tahun Berturut-turut Tak Masuk Daftar Kasus ILC, Menaker: Bukti Dialog Sosial Indonesia Terwujud
-
RIAU10/06/2026 22:00 WIBSatlantas Polres Inhu Gandeng Mahasiswa Kampanyekan Keselamatan dan Lingkungan
















