OTOTEK
Ledakan Matahari Terkuat, Apa Dampaknya bagi Bumi?
AKTUALITAS.ID – Fenomena ledakan Matahari dahsyat terjadi pada awal Februari 2026 dan menarik perhatian komunitas ilmuwan dunia. Dalam rentang waktu yang sangat singkat, Matahari tercatat melepaskan empat ledakan kuat hanya dalam 20 jam, memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap Bumi.
Meski jarak Matahari ke Bumi mencapai sekitar 150 juta kilometer, dampak ledakan Matahari tidak bisa dianggap sepele. Salah satu efek yang berpotensi terjadi adalah peningkatan partikel berenergi tinggi di ruang angkasa, yang dapat memengaruhi sistem teknologi modern.
Selain itu, ledakan Matahari juga dapat memicu pelepasan massa koronal (Coronal Mass Ejection/CME), yakni lontaran besar plasma dan medan magnet dari atmosfer Matahari. Mengutip laporan Vice, CME yang mengarah ke Bumi berpotensi menyebabkan badai geomagnetik.
Salah satu tanda paling terlihat dari badai geomagnetik adalah munculnya aurora yang lebih intens di wilayah kutub Bumi. Namun, dampaknya tidak berhenti di situ. Gangguan pada satelit, sinyal GPS, komunikasi radio, hingga sistem navigasi global juga berpotensi terjadi.
Dalam skenario paling ekstrem, badai geomagnetik kuat dapat mengganggu jaringan listrik di darat, terutama di negara-negara dengan infrastruktur kelistrikan yang rentan terhadap lonjakan arus geomagnetik.
Empat ledakan Matahari tersebut terjadi sejak 1 Februari 2026. Ledakan paling menonjol diklasifikasikan sebagai suar Matahari kelas X8.1, yang dilepaskan pada 2 Februari 2026 pukul 23.37 UTC atau 3 Februari 2026 pukul 06.37 WIB.
Pusat Prediksi Cuaca Antariksa Amerika Serikat (NOAA) menyebut suar X8.1 ini sebagai yang terkuat sejak Oktober 2024, sekaligus salah satu yang paling signifikan dalam siklus Matahari terbaru.
Seluruh ledakan tersebut diketahui berasal dari wilayah bintik Matahari RGN 4366, yang pada saat kejadian menghadap langsung ke arah Bumi, sehingga meningkatkan potensi dampak terhadap planet ini.
Para ilmuwan terus memantau perkembangan aktivitas Matahari, mengingat siklus maksimum Matahari diperkirakan masih berlangsung dan risiko badai antariksa dapat meningkat dalam beberapa waktu ke depan. (Firmansyah/Mun)
-
EKBIS18/08/2026 10:30 WIBRupiah Melemah ke Rp17.840 per Dolar AS
-
POLITIK18/08/2026 11:00 WIBGeger Pengupas Bawang, Iwan Sumule: Ada yang Sengaja Menjerumuskan Presiden
-
RAGAM18/08/2026 11:15 WIBPolda Riau Bongkar Mata Rantai Emas PETI, Dua Orang Tersangka dan Rp972 Juta Disita
-
EKBIS18/08/2026 11:30 WIBEmas Antam Melejit ke Rp2,695 Juta/Gram
-
DUNIA18/08/2026 12:00 WIBHouthi Tembakkan Rudal Hipersonik ke Laut Merah
-
NASIONAL18/08/2026 14:00 WIBKomisi III Targetkan RUU Rampung Sebelum Desember
-
RAGAM18/08/2026 14:30 WIB18 Agustus Jadi Saksi Penentuan Nasib NKRI
-
NASIONAL18/08/2026 10:00 WIBKapolri Tegaskan Aceh Aman Usai Bendera Bulan Bintang

















