Connect with us

POLITIK

Era AI Ubah Dunia Kerja, Ini 5 Skill yang Dicari Perusahaan

Aktualitas.id -

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, dok; aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Perubahan akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menggeser kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Transformasi yang terjadi tidak lagi sekadar memunculkan pertanyaan apakah pekerjaan akan hilang, melainkan kemampuan apa yang harus dimiliki pekerja agar tetap relevan.

Laporan World Economic Forum (WEF) menyebut mayoritas pekerjaan di masa depan diprediksi mengalami transformasi, bukan hilang sepenuhnya. Perubahan tersebut membuat pekerja di berbagai sektor dituntut lebih cepat beradaptasi terhadap kebutuhan skill baru.

Kemampuan analisis, kreativitas, penguasaan teknologi, hingga adaptasi disebut menjadi faktor pembeda utama dalam menghadapi perubahan industri akibat AI.

“Mayoritas pekerjaan ke depan akan mengalami transformasi. Perannya berubah bentuk, bukan sepenuhnya hilang,” demikian gambaran tren dunia kerja berdasarkan kajian World Economic Forum yang dikutip Minggu (3/5/2026).

Salah satu kemampuan paling penting di era AI ialah AI literacy atau pemahaman dasar mengenai teknologi kecerdasan buatan. Penguasaan AI kini tidak lagi dipandang sebagai nilai tambah, melainkan mulai menjadi keterampilan dasar di banyak sektor pekerjaan.

Pekerja tidak harus menguasai pemrograman atau coding, tetapi perlu memahami cara memanfaatkan teknologi seperti chatbot berbasis AI, sistem otomatisasi, hingga alat bantu produktivitas digital untuk mendukung pekerjaan sehari-hari.

Selain kemampuan teknologi, critical thinking atau berpikir kritis menjadi keterampilan yang dinilai tetap tidak tergantikan mesin. AI memang mampu menghasilkan informasi secara cepat, namun tetap memiliki risiko kesalahan, bias, maupun jawaban yang tidak sesuai konteks.

Karena itu, manusia masih memegang peran penting dalam mengevaluasi informasi, melakukan verifikasi, serta mengambil keputusan berbasis pertimbangan rasional.

Laporan media internasional menyebut sistem AI saat ini masih berpotensi menghasilkan informasi keliru sehingga kemampuan manusia sebagai penyaring informasi tetap dibutuhkan.

Kemampuan kreativitas juga diprediksi makin bernilai di tengah masifnya penggunaan AI. Meski teknologi kini dapat membuat teks, gambar, hingga video secara otomatis, manusia tetap dibutuhkan untuk membangun ide, memahami konteks budaya, serta mengarahkan hasil akhir.

Di sisi lain, komunikasi dan kolaborasi dinilai menjadi skill penting karena pola kerja ke depan tidak hanya melibatkan manusia, tetapi juga sistem berbasis AI. Kemampuan menjelaskan ide, menyampaikan analisis, dan bekerja lintas tim diperkirakan makin dibutuhkan perusahaan.

Adapun adaptability atau kemampuan beradaptasi menjadi kompetensi yang disebut paling menentukan. Perubahan teknologi yang berlangsung cepat membuat keterampilan mudah usang sehingga pekerja dituntut terus belajar dan meningkatkan kemampuan.

World Economic Forum menempatkan resilience, flexibility, dan agility sebagai keterampilan inti tenaga kerja masa depan yang mampu bertahan menghadapi perubahan industri.

“AI tidak serta-merta menggantikan manusia, tetapi mengubah standar kompetensi di dunia kerja. Pekerjaan berbasis rutinitas makin tertekan, sementara skill adaptif justru semakin bernilai,” demikian kesimpulan tren yang diuraikan dalam kajian tersebut.

Perubahan besar di pasar kerja membuat persaingan tidak lagi ditentukan siapa yang paling lama bekerja, melainkan siapa yang paling cepat belajar, beradaptasi, dan memanfaatkan teknologi.(Bowo/Mun)

TRENDING