POLITIK
Pengamat: Ganti Kapolri Bisa Jadi Bumerang Prabowo
AKTUALITAS.ID – Wacana pergantian Kapolri kembali menjadi perbincangan di tengah dinamika politik nasional. Analis politik, hukum, dan isu intelijen Boni Hargens menilai langkah tersebut, apabila dilakukan dalam situasi politik saat ini, berpotensi memunculkan konsekuensi politik yang merugikan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Boni, secara konstitusional pergantian Kapolri merupakan hak prerogatif Presiden. Namun, ia menilai setiap keputusan politik juga akan dinilai dari sisi persepsi publik dan narasi yang berkembang di ruang politik.
“Kelompok oposisi dapat mengklaim bahwa pergantian Kapolri dilakukan karena Kapolri terlalu berani mengusut kasus korupsi yang melibatkan oknum dari Kejaksaan Agung. Sebuah narasi yang menghubungkan keputusan administratif dengan dugaan intervensi terhadap penegakan hukum,” ujar Boni kepada wartawan di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Ia mengingatkan bahwa narasi politik, benar ataupun tidak, dapat berkembang luas apabila muncul pada momentum yang dianggap tepat dan menyasar masyarakat yang memiliki tingkat kecurigaan tinggi terhadap pemerintah.
Karena itu, Boni menyarankan agar Presiden tidak terburu-buru mengambil keputusan terkait pergantian pimpinan Polri. Ia mengaitkan pandangannya dengan konsep butterfly effect, yakni sebuah keputusan yang tampak sederhana dapat memicu rangkaian dampak politik yang lebih besar.
“Saya tidak mengadvokasi penolakan permanen terhadap wacana pergantian Kapolri, melainkan menyarankan agar ide tersebut diabaikan sementara oleh presiden. Menunda bukan berarti lemah, melainkan bentuk kecerdasan strategis yang mempertimbangkan ekosistem politik dan persepsi publik,” jelasnya.
Menurut Boni, pihak yang paling berpotensi terdampak apabila isu tersebut berkembang adalah Presiden Prabowo sendiri, sekaligus citra independensi institusi penegak hukum.
Ia menilai, dalam dunia politik, legalitas sebuah keputusan belum tentu identik dengan ketepatan momentum.
“Evaluasi tentang pergantian Kapolri bukan soal siapa yang layak menjabat, melainkan pengingat bahwa dalam politik, timing adalah segalanya. Keputusan yang tepat di waktu yang salah bisa menjadi bumerang,” pungkasnya.
Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Istana Kepresidenan mengenai adanya rencana pergantian Kapolri. Wacana tersebut masih menjadi bagian dari diskursus publik dan analisis sejumlah pengamat, sementara kewenangan pengangkatan maupun pemberhentian Kapolri tetap berada pada Presiden sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. (Bowo/Mun)
-
RIAU06/08/2026 18:15 WIBMerawat Pesisir di Rupat, Ekspedisi Merah Putih Polda Riau Bantu Nelayan dan Tanam 1.000 Mangrove
-
DUNIA06/08/2026 21:00 WIBRudal Rusia Tewaskan Belasan Orang di Kyiv
-
DUNIA06/08/2026 18:00 WIBNetanyahu: Serang Iran Tak Butuh Restu Washington
-
EKBIS06/08/2026 20:00 WIBAirlangga Pastikan Pertalite Tak Naik hingga Akhir 2026
-
NUSANTARA06/08/2026 22:00 WIBBocah 11 Tahun di Jambi Tewas Diterkam Buaya Ganas
-
RAGAM07/08/2026 01:05 WIBSJA Textile Hadirkan Strategic Fabric Partner, Bantu Brand Fashion dari Awal Produksi
-
NASIONAL07/08/2026 06:00 WIBAmnesty Desak MBG Dihentikan Usai Dugaan Keracunan Massal
-
EKBIS07/08/2026 10:30 WIBRupiah Jadi Pecundang di Asia Pagi Ini