RAGAM
BMKG: 64% Wilayah Indonesia Akan Lebih Kering
AKTUALITAS.ID – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan datang lebih awal dari biasanya, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pergeseran musim ini dipengaruhi oleh berakhirnya fenomena La Niña pada Februari 2026 yang bertransisi menuju kondisi netral, serta potensi munculnya El Niño pada paruh kedua tahun ini.
Menurutnya, indikator iklim global seperti ENSO saat ini berada di angka minus 0,28 dan masih dalam kategori netral. Namun, peluang terbentuknya El Niño lemah hingga moderat diperkirakan mencapai 50 hingga 60 persen.
BMKG mencatat, sebanyak 114 Zona Musim (16,3 persen wilayah) telah memasuki musim kemarau pada April 2026. Angka ini akan meningkat menjadi 184 Zona Musim (26,3 persen) pada Mei dan 163 Zona Musim (23,3 persen) pada Juni.
Wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih awal meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Sementara sebagian wilayah lainnya mengalami puncak pada Juli dan September.
Tak hanya datang lebih awal, sifat kemarau tahun ini juga diprediksi lebih kering dari normal di 64,5 persen wilayah Indonesia. Selain itu, sekitar 57,2 persen wilayah diperkirakan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang.
BMKG mengingatkan berbagai sektor untuk bersiap menghadapi dampak kemarau, terutama di bidang pertanian dan lingkungan.
Petani diimbau untuk menyesuaikan pola tanam, memilih varietas tahan kekeringan, serta mengoptimalkan penggunaan air. Selain itu, pemerintah daerah diminta meningkatkan pengelolaan sumber daya air dan mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dengan potensi kemarau yang lebih cepat, lebih panjang, dan lebih kering, kesiapsiagaan menjadi kunci utama. BMKG menekankan pentingnya langkah mitigasi sejak dini agar dampak terhadap pangan, lingkungan, dan kesehatan masyarakat dapat diminimalkan. (Kusuma/Mun)
-
RIAU03/09/2026 17:00 WIBSatresnarkoba Polres dan Polsek Bengkalis Telusuri Sabu dari Homestay, 15 Paket Ditemukan Pemasok Masih Diburu
-
POLITIK03/09/2026 16:00 WIBNasib Gibran Tersisa 7 Hari, Denny Bersiap Tempuh Jalur MK
-
NASIONAL03/09/2026 19:00 WIBKemenkop Bantah Anggaran Rp103 Miliar Khusus untuk Podcast
-
NUSANTARA03/09/2026 15:02 WIBDiduga Gelapkan Rp2,14 Miliar Dana Nasabah, Manager BRI Lubuklinggau Jadi Tersangka
-
NASIONAL03/09/2026 20:00 WIBKronologi Keracunan MBG di Tanggulangin: Dimasak Subuh, Makanan Tiba di Sekolah Menjelang Siang
-
RIAU03/09/2026 12:00 WIBUngkap Peredaran Ribuan Ekstasi, AKP Noki Loviko: Polisi Telusuri Mata Rantai Jaringan Narkoba
-
NUSANTARA03/09/2026 14:29 WIBKejari Lubuklinggau Musnahkan Barang Bukti Inkrah, Ganja hingga Sajam
-
NUSANTARA03/09/2026 19:30 WIBDinkes Sidoarjo Catat 664 Korban Keracunan MBG, 77 Pasien Masih Dirawat Intensif