OTOTEK
Ini Alasan Pengguna WhatsApp Pindah ke Telegram
AKTUALITAS.ID – Dominasi WhatsApp sebagai aplikasi pesan instan terpopuler di dunia mulai mendapatkan tantangan serius pada tahun 2025. Isu keamanan privasi dan munculnya iklan di platform milik Meta tersebut membuat sebagian pengguna mulai melirik alternatif lain.
Pesaing terkuat saat ini, Telegram, baru saja melaporkan pencapaian bersejarah. Pendiri Telegram, Pavel Durov, mengumumkan bahwa layanan pesannya telah menembus angka 1 miliar pengguna aktif per Maret 2025.
Tak hanya jumlah pengguna yang melonjak, kesehatan finansial perusahaan pun k kian prima dengan catatan profit mencapai US$547 juta sepanjang tahun lalu.
Dalam pernyataannya kepada TechCrunch, Minggu (21/12/2025), Durov tak segan melontarkan kritik pedas terhadap kompetitor utamanya. Ia menilai WhatsApp selama ini hanya sibuk meniru fitur-fitur inovatif yang lebih dulu diperkenalkan Telegram.
“Di atas kami ada WhatsApp, layanan murah yang meniru Telegram. Selama bertahun-tahun, WhatsApp berupaya mengikuti inovasi kami sembari membakar uang miliaran dolar AS untuk lobi dan kampanye PR demi memperlambat pertumbuhan kami,” kata Pavel Durov.
Durov dengan percaya diri menyebut strategi Meta tersebut tidak berhasil membendung laju Telegram.
“Mereka [WhatsApp] gagal. Telegram bertumbuh, meraup keuntungan, dan mempertahankan kemandirian kami,” tegasnya.
Meski demikian, secara statistik WhatsApp masih memimpin dengan lebih dari 2 miliar pengguna aktif dan diprediksi menyentuh angka 3 miliar pada akhir 2025. Namun, kesenjangan angka tersebut kian menipis seiring pertumbuhan organik Telegram.
Berdasarkan data DemandSage, basis pengguna Telegram memiliki karakteristik yang unik. India menjadi pasar terbesar dengan menyumbang 45% dari total pengguna global, sementara Amerika Serikat hanya menyumbang 9%.
Dari segi demografi, Telegram sangat populer di kalangan usia produktif, di mana 53,2% pengguna berasal dari kelompok usia 25-44 tahun. Pengguna pria juga lebih mendominasi platform ini dengan proporsi 58% berbanding 42% pengguna perempuan.
Layanan berbayar Telegram Premium juga menunjukkan tren positif dengan 10 juta orang yang telah berlangganan untuk mendapatkan fitur eksklusif.
Pertumbuhan Telegram bukan tanpa rintangan. Durov mengakui adanya tekanan dari berbagai negara untuk membatasi pertukaran informasi. Puncaknya terjadi pada Agustus 2024, saat Durov sempat ditahan di Prancis atas tuduhan moderasi konten terkait pornografi anak dan obat terlarang.
Setelah kejadian tersebut, Telegram melakukan penyesuaian moderasi konten. Namun, Durov tetap bersikeras menjamin sistem enkripsi Telegram bebas dari intervensi pemerintah, bahkan dari tekanan raksasa teknologi seperti Apple dan Alphabet (Google).
“Dua platform tersebut (Apple dan Google) benar-benar bisa menyensor apa saja yang Anda baca, serta mengakses semua yang ada di smartphone Anda,” ujarnya mengingatkan bahaya sensor dari pihak ketiga.
Durov juga mengungkap pernah ada upaya dari FBI untuk merekrut teknisi Telegram guna membobol sistem keamanan platformnya (backdoor), namun ia menolak tunduk.
“Saya lebih baik bebas ketimbang tunduk pada perintah siapa pun,” pungkas Durov. (Firmansyah/Mun)
-
NUSANTARA02/04/2026 17:00 WIBReaksi Cepat Prajurit TNI Tangani Dampak Gempa M 7,6 di Sulawesi Utara
-
NASIONAL02/04/2026 11:00 WIBSahroni Sebut Kasus Air Keras ke Puspom TNI Sudah Benar
-
PAPUA TENGAH02/04/2026 11:15 WIBKurang dari 12 Jam, Polisi Berhasil Amankan Pelaku Pencurian di Hotel 66
-
NUSANTARA02/04/2026 12:30 WIBRugi Miliaran!11 Sumur Minyak Ilegal Muba Meledak Berkeping-keping
-
NASIONAL02/04/2026 10:00 WIBEddy Soeparno Puji Langkah Berani Presiden Prabowo Selamatkan Harga BBM
-
EKBIS02/04/2026 10:30 WIBPidato Perang Donald Trump Bikin IHSG Hari Ini Runtuh ke Level 7.092
-
NASIONAL02/04/2026 16:30 WIBGugurnya Prajurit TNI di Lebanon, Gus Hilmy: PBB Harus Hukum Israel, Pemerintah Jangan Gegabah Kirim Pasukan
-
PAPUA TENGAH02/04/2026 08:45 WIBKejari Mimika Tangani 261 Perkara, Penganiayaan dan Narkotika Mendominasi

















