OASE
Umar Bin Khattab Murka Saat Diberi Hadiah Rampasan Perang
AKTUALITAS.ID – Di tengah kemenangan besar pasukan Muslim atas Ahwaz, sebuah perhiasan emas mewah dikirim khusus untuk Khalifah Umar bin Khattab. Namun di luar dugaan, sang pemimpin besar Islam justru murka, membanting hadiah itu ke tanah, dan menegur keras para utusan yang membawanya.
Kisah ini menjadi bukti betapa Umar bin Khattab tidak pernah ingin mengambil keuntungan pribadi dari kekuasaan yang diembannya.
Pada masa kepemimpinannya, Umar dikenal sebagai pemimpin yang hidup sederhana dan selalu mengutamakan kepentingan rakyat.
Setiap malam, Khalifah Umar rutin berkeliling Kota Madinah memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan ataupun hidup dalam ketakutan.
Suatu malam, Umar gelisah memikirkan siapa sosok paling tepat memimpin ekspedisi penaklukan Ahwaz, wilayah penting di barat Persia.
Menjelang subuh, muncul satu nama dalam benaknya: Salamah bin Qais al-Asyja’i, sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal gagah berani di medan perang.
Usai shalat subuh, Umar langsung memanggil Salamah dan memberinya amanat besar.
Khalifah berpesan agar pasukan Muslim lebih dahulu mengajak penduduk Ahwaz masuk Islam dengan cara damai.
Jika menolak, mereka diminta membayar pajak perlindungan tanpa dipaksa meninggalkan keyakinannya.
Namun bila mengangkat senjata, barulah diperangi.
Setelah perjalanan panjang dan berat, pasukan Muslim tiba di Ahwaz. Seruan damai ditolak mentah-mentah oleh para pemuka setempat.
Pasukan Muslim berhasil memenangkan pertempuran dan memperoleh harta rampasan perang dalam jumlah besar.
Di antara rampasan itu terdapat sebuah perhiasan emas sangat indah dan bernilai mahal.
Salamah bin Qais lalu berniat mengirimkan benda tersebut sebagai penghormatan untuk Khalifah Umar di Madinah.
Dua utusan dikirim membawa kabar kemenangan sekaligus menyerahkan hadiah istimewa tersebut.
Sesampainya di Madinah, mereka mendapati Umar tengah membagikan makanan kepada kaum fakir miskin.
Tanpa pengawalan mewah dan tanpa kemegahan istana, Umar menerima para utusan di rumah sederhananya.
Ketika kotak hadiah dibuka, tampak perhiasan emas berkilauan yang begitu memukau.
Wajah Khalifah langsung berubah merah menahan amarah.
Ia berdiri dan membanting kotak beserta perhiasan itu ke tanah.
“Apakah kalian ingin menjerumuskanku ke dalam neraka jahanam dengan benda ini?” bentak Umar.
Dengan suara tegas, Umar memerintahkan hadiah tersebut segera dikembalikan ke Ahwaz untuk dibagikan kepada seluruh prajurit secara adil.
“Segera bawa kembali dan bagikan kepada seluruh pasukan!” tegas Amirul Mukminin.
Dua utusan itu pun ketakutan dan buru-buru kembali menemui Salamah bin Qais.
Mereka akhirnya memahami satu hal penting: Umar bin Khattab tidak pernah menganggap jabatan sebagai jalan menikmati kemewahan.
Bagi Umar, kemenangan perang bukan untuk memperkaya pemimpin, melainkan demi syiar Islam, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.
Kisah ini hingga kini dikenang sebagai salah satu teladan terbesar tentang integritas, kepemimpinan bersih, dan penolakan terhadap gratifikasi dalam sejarah Islam. (Mun)
-
DUNIA17/05/2026 08:00 WIBIran: AS Tak Bisa Dipercaya, China Jadi Harapan Baru Perdamaian
-
JABODETABEK17/05/2026 07:30 WIBBiaya dan Lokasi SIM Keliling Jakarta Minggu 17 Mei 2026
-
NUSANTARA17/05/2026 06:30 WIBTragis! Dua Wisatawan Tertimbun Longsor Curug Cileat Ditemukan Tewas
-
NASIONAL17/05/2026 18:00 WIBPemerintah Resmi Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
-
NUSANTARA17/05/2026 08:30 WIBPolres Klaten Bekuk Ayah Cabuli Anak Kandung
-
NASIONAL17/05/2026 09:00 WIBEddy Soeparno Pasang Badan untuk Josepha dan SMAN 1 Pontianak
-
RAGAM17/05/2026 09:30 WIBGunung Ciremai Ternyata Simpan Sesar Aktif Purba
-
NUSANTARA17/05/2026 12:30 WIBTragis! Anggota TNI Tewas Ditembak Rekan Sendiri di Kafe Palembang

















