EKBIS
Dolar AS Tembus Rp17.009, Rupiah Terpukul di Awal Pekan
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar Rupiah Indonesia sempat ambrol hingga menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi, Senin (9/3/2026). Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya sentimen global yang mendorong investor beralih ke aset aman.
Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS tercatat menguat sekitar 0,50% ke level Rp17.009 per dolar AS pada awal perdagangan. Sementara pada pukul 10.00 WIB, rupiah berada di kisaran Rp16.980 per dolar AS, atau melemah sekitar 55 poin (0,33%) dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.925 per dolar AS.
Data dari Yahoo Finance menunjukkan posisi rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.914 per dolar AS, menandakan mata uang Garuda masih bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.000.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah pada hari ini akan tetap volatil. Ia menilai mata uang domestik masih berpotensi melemah seiring tekanan dari kondisi global.
Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Hingga pukul 10.22 WIB, sebagian besar mata uang di kawasan Asia juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Peso Filipina menjadi mata uang dengan penurunan terdalam setelah melemah sekitar 1,03%. Disusul baht Thailand yang turun 0,77%, serta dolar Taiwan dan yen Jepang yang masing-masing terkoreksi sekitar 0,62%.
Selain itu, won Korea Selatan tertekan 0,61%, ringgit Malaysia melemah 0,43%, dan dolar Singapura turun sekitar 0,39%. Sementara yuan China tercatat melemah 0,24% terhadap dolar AS.
Adapun dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang menguat dengan kenaikan sekitar 0,09%.
Sementara itu, kurs referensi dari Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah pada posisi Rp16.919 per dolar AS.
Pergerakan mata uang Asia pada hari ini juga terlihat bervariasi. Yen Jepang tercatat menguat 0,62%, baht Thailand naik 0,44%, dan peso Filipina menguat 0,66%, sementara yuan China melemah 0,08% dan won Korea Selatan turun 0,15%.
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kondisi pasar global yang sedang berada dalam mode risk-off, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko di negara berkembang dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti dolar AS.
Ketegangan geopolitik yang meningkat akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran terhadap gangguan jalur logistik energi global.
Selain itu, lonjakan harga minyak dunia juga memperparah tekanan pasar. Harga minyak acuan Brent Crude Oil dilaporkan telah menembus US$100 per barel dan bahkan sempat menyentuh US$111 per barel pada perdagangan Senin pagi.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh penurunan outlook ekonomi Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional, yang memicu kehati-hatian investor terhadap aset di pasar berkembang.
Pelaku pasar memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, seiring perkembangan kondisi geopolitik global dan pergerakan arus modal asing. (Firmansyah/Mun)
-
NASIONAL10/06/2026 17:38 WIB5 Pegawai BPK Terjaring OTT KPK
-
JABODETABEK10/06/2026 23:00 WIBMantan Karyawan Gugat PT PetroChina International Jabung ke PHI
-
POLITIK10/06/2026 17:30 WIBPilpres 2029 Diprediksi Head to Head Prabowo versus Anies
-
JABODETABEK10/06/2026 20:30 WIBTarif Transjabodetabek Bakal Naik, Pramono Anung: Pasti Tetap Disubsidi Pemprov DKI
-
NASIONAL10/06/2026 18:29 WIBEks Wakil Kepala BGN Sebut 26 Nama Diduga Terlibat Korupsi Program MBG
-
NASIONAL10/06/2026 20:00 WIBDPR Minta Rekrutmen Manajer Koperasi Merah Putih Dilakukan Ketat
-
NASIONAL10/06/2026 20:47 WIBKLH Gelar Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dan Envirotech di JICC
-
POLITIK10/06/2026 19:20 WIBAHY Disebut Paling Siap Jadi Cawapres Karena Faktor Ini
















