DUNIA
Trump Tunda Serangan Militer ke Iran Usai Diminta Arab Saudi dan Qatar
AKTUALITAS.ID – Dunia kembali dibuat tegang setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku menunda serangan militer baru terhadap Iran hanya beberapa saat sebelum operasi itu disebut akan digelar.
Keputusan dramatis itu diambil setelah para pemimpin negara Teluk, termasuk Emir Qatar dan Putra Mahkota Arab Saudi, meminta Trump menahan diri demi memberi ruang bagi negosiasi panas yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Senin (18/5), Trump menyebut dirinya secara langsung diminta oleh Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, serta Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan untuk menunda serangan terhadap Iran.
Trump mengklaim serangan militer itu sebenarnya telah dijadwalkan berlangsung “besok”, namun akhirnya ditunda karena adanya “negosiasi serius” yang diyakini dapat menghasilkan kesepakatan besar di Timur Tengah.
“Saya telah diminta untuk menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Republik Islam Iran karena negosiasi serius sedang berlangsung,” tulis Trump.
Meski begitu, Trump tetap melontarkan ancaman keras kepada Teheran. Ia menegaskan Amerika Serikat siap melancarkan serangan besar-besaran apabila tidak tercapai kesepakatan yang dianggap memuaskan Washington dan sekutunya.
“Kesepakatan ini harus mencakup satu hal penting: tidak akan ada senjata nuklir untuk Iran!” tegas Trump.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memang terus meningkat sejak kedua negara terjebak dalam negosiasi alot pascagencatan senjata pada 8 April lalu.
Dalam perundingan itu, AS menuntut Iran menghentikan seluruh program nuklir dan dukungan terhadap kelompok proksi di Timur Tengah. Namun Iran menolak tuntutan tersebut dan bersikeras program nuklir mereka digunakan untuk kepentingan sipil.
Sebagai jalan tengah, Teheran menawarkan pengurangan pengayaan uranium dengan syarat Washington mencairkan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.
Situasi makin sensitif karena akses di Selat Hormuz masih menjadi salah satu inti pembicaraan penting. Jalur perdagangan minyak dunia itu sebelumnya ditutup Iran setelah serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu.
Sementara itu, Pakistan disebut terus memainkan peran sebagai mediator untuk meredam potensi ledakan konflik besar di kawasan yang dapat mengguncang ekonomi dan keamanan global. (Mun)
-
EKBIS19/08/2026 17:00 WIBPurbaya: Subsidi Motor Listrik Resmi Meluncur September
-
DUNIA19/08/2026 18:00 WIBIsrael Kaget Iran Bisa Produksi Ribuan Rudal
-
NASIONAL19/08/2026 16:00 WIBOjol Tuntut Bagi Hasil 92:8 Jangan Sekadar Angka
-
NUSANTARA19/08/2026 20:00 WIBKeji Tak Terobati, KKB Tembak Mati Ibu & Lempar Anaknya ke Jurang
-
NASIONAL19/08/2026 19:00 WIBPengamat: NU Jangan Jadi Arena Politik Kotor
-
JABODETABEK19/08/2026 20:30 WIBJPU Minta Hakim Tolak Eksepsi Bangun Paulus Karena di Luar Materi Hukum
-
RIAU20/08/2026 07:30 WIBKarhutla Riau Hantam Kawasan Harimau Sumatra
-
NASIONAL20/08/2026 10:00 WIBErna Sari Dewi Bongkar Rantai Lemah Keselamatan Kapal

















